Diduga Ada Rekayasa Lahan, Tripika Croscek Lokasi Pembangunan Sutet

0
8
[Unsur Tripika saat mengecek langsung lokasi yang menjadi batas antara tanah DDA dan tanah PLN untuk pembangunan sutet – foto A Yudiansyah beritasebelas]

A Yudiansyah

beritasebelas.com,Lahat – Pembangunan Tower Saluran Tegangan Tinggi (Sutet) milik PT PLN yang sempat terhambat akibat klaim lahan dilakukan oleh oknum berinisial DDA mengaku sebagai pemilik sah lahan tersebut, kini mulai menemui titik terang. Dengan dihadiri dan disaksikan oleh 3 unsur pimpinan kecamatan (Tripika) Lahat, yakni Kapolsek Kota Lahat, Camat Kota Lahat dan pihak Koramil 405/01, serta perwakilan dari Kodim 0405/Lahat yang dihadiri Kasdim, Mayor Agus Salim, para perangkat Desa Selawi dan juga utusan dari Satreskrim Polres Lahat, melakukan croscek lahan yang diklaim DDA adalah miliknya.

Kejelasan ini timbul, setelah tiga warga yakni Thamrin pemilik sah lahan sebelum dijualkan kepada Suprin alias Jangguk, Sarma pemilik sah lahan yang berbatasan langsung dengan lahan (tepat dimana lokasi tower sutet dibangun) yang dibeli oleh Jangguk, dan juga Suprin sendiri pemilik sah dan menjual lahan tersebut kepada pihak PLN. Ketiga saksi ini dengan lugas dan tegas memberikan keterangan di hadapan para pihak dan awak media Senin 13 Mei 2019 dalam pertemuan di Kantor Desa Selawi, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat.

Guna menyaksikan dan menyelesaikan sengketa yang terjadi ini, Kepala Desa Selawi, Kecamatan Lahat, Jemmy Marcos yang juga bertindak sebagai mediator penyelesaian sengketa lahan tersebut meminta, agar para pihak turun langsung ke lokasi lahan tersebut guna menyaksikan lebih jelas keterangan para saksi.

“Kita sayangkan tidak ada satu pun perwakilan dari pihak DDA yang hadir meskipun sudah kita undang. Namun terlepas dari hadir atau tidaknya DDA, proses penegakan kebenaran ini harus berjalan, karena Tower Sutet ini merupakan proyek nasional yang juga objek vital negara,” tutur Jemmy di hadapan forum, Senin 13 Mei 2019.

Dihadapan unsur Tripika, ketiga orang saksi juga memberikan keterangan jika lahan yang digarap oleh PLN ini bukan merupakan tanah milik DDA. Berdasarkan sejarahnya, tanah tersebut merupakan milik Jangguk yang sudah dijualnya kepada pihak PLN.

“Setahu saya, lahan yang saya jual kepada Jangguk ini tepat berbatasan dengan pohon ini (sebuah pohon karet). Ke sebelah kanan batang karet, jika dilihat dari bagian atas, maka itu milik DDA. Lalu kebagian bawah (lokasi tepat dimana tapak tower sutet dibangun) itu sudah saya jual sama Jangguk sejak belasan tahun lalu. Nah untuk kebagian kiri jalan menuju lokasi pembangunan tower sutet itu lahan milik Sarma. Tapi perkara sudah dijual dengan pihak PLN, itu saya tidak tahu lagi, karena lahan itu sudah saya jual kepada Jangguk,” terang Thamrin di lokasi, sambil menunjukkan batas-batas lahan yang jualnya kepada Jangguk dan batas dengan Sarma.

Senada dengan keterangan Thamrin, Sarma juga mengakui bahwa batas lahan yang dijualkan Thamrin pada Jangguk itu adalah sebuah pohon karet yang ditunjuk dan dipegang oleh Tahmrin dan Jangguk.

“Nah, ke arah bawah itulah lahan Thamrin yang dijualnya pada Jangguk. Lahan milik saya adalah mulai dari pagar yang dipasang oleh DDA itu, sampai ke sini (batas dengan Jangguk) dan melebar ke arah sebelah kiri itulah lahan milik saya,” sebut Sarma.

Atas keterangan yang dipaparkan oleh Thamrin dan Sarma, Jangguk juga tak menampik hal itu. Bahkan dirinya merasa heran, kenapa DDA bisa mengakui kalau lahan yang saya jual ke PLN itu adalah milik DDA.

“Sesuai keterangan para saksi lainnya juga, mulai dari batang karet perbatasan dengan lahan DDA dan Sarma itu, ke bagian bawah, itu milik saya dan sudah saya jual kepada pihak PLN,” terang Jangguk yang didengar juga oleh Kasdim 0405/Lahat, Kapolsek Kota Lahat dan para pihak lainnya termasuk dari pihak PLN dan masyarakat yang ikut menyaksikan keterangan itu.

Sekedar informasi, bahwa sebelum perkara ini mencuat letak titik pusat pendirian tapak tower sutet milik PLN itu memang direncanakan terletak di lahan sah milik DDA. Akan tetapi, karena proses negosiasi penggantian atau pembelian lahan antara pihak PLN dan DDA itu tidak menemukan kesepakatan, maka pihak PLN berinisiatif untuk memindahkan letaknya ke lahan milik Jangguk yang juga dibelinya dari Thamrin.

Kendati demikian, DDA dikabarkan masih bersikukuh mengakui jika lahan di mana pemindahan tapak tower sutet dilahan milik PLN yang dibeli dari Jangguk itu juga miliknya, padahal pemindahan lokasi tersebut sudah bergeser beberapa meter dari lahan milik DDA. Dengan demikian, maka proses pembangunan tapak tower sutet itu, terhalang oleh klaim lahan DDA.

print