Doyan Makanan Cepat Saji, Anak Nelayan Banyuasin Alami Gizi Buruk

0
65

Haqulana

beritasebelas.com,Banyuasin – Anak-anak di kampung nelayan harusnya memiliki gizi yang tinggi, karena pasokan ikan yang melimpah. Sayangnya berbeda di Banyuasin,  kasus gizi buruk malah menimpa anak-anak dikawasan perairan tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin, H Mgs Hakim. Dikatakanya, kecamatan di Banyuasin masih terpilih menjadi fokus lokasi Penanganan Stunting atau masalah kurang gizi kronis.

“Kalau dilihat dari kondisi alamnya, anak perairan kecil kemungkinan  akan kurang gizi. Karena disana banyak ikan juga sayuran. Tapi pola makan masyarakat yang sudah beralih ke makanan-makanan yang cepat saji yang membuat ibu hamil dan anak-anak tidak standar dalan gizi,” kata Hakim.

Selain itu air yang dikonsumsi dan pola hidup bersih dan sehat juga merupakan faktor penentu gizi masyarakat.

“Kami berharap dengan program kesehatan dan gizi berbasis masyarakat ini, yang melibatkan banyak stakeholder dapat menekan angka Stunting di Banyuasin,” katanya.

Sedangkan Ketua Women Crisis Center Palembang, Yeni Rosaliani Izi menambahkan,  persoalan Stunting bukan hanya berdampak pada tinggi badan anak, tapi juga mempengaruhi kecerdasan, prestasi dan kreatifitas anak.

“Ini perlu segera diatasi, karena ini masalah generasi penerus bangsa Indonesia kedepan. Kalau anak-anaknya sekarang kurang sehat, bagaimana nasib bangsa ini kedepannya nanti,” jelasnya.

Melalaui program pendampingan ini, memberikan edukasi kepada masyarakat terutama ibu hamil agar melengkapi gizi, mulai dari masa kehamilan sampai 100 hari pertama. Asupan asi ekslusif selama enam bulan juga harus dijaga.

“Prilaku hidup sehat inilah yang harus kita kampanyekan dan kita budaya kan,” katanya.

Menurutnya, saat ini Indonesia menduduki peringkat kelima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi `Stunting` atau memiliki masalah kurang gizi kronis, masalah ini perlu diatasi secara bersama oleh kepala daerah terutama yang memiliki angka prevalensi stunting yang cukup tinggi.

Riset kesehatan dasar pada 2013 mencatat prevalensi Stunting Nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 sebesar 35,6 persen. Berdasarkan hasil riset tersebut berarti pertumbuhan tidak maksimal diderita oleh sekitar sembilan juta anak Indonesia atau satu dari tiga anak Indonesia.

“Prevalensi Stunting di Indonesia lebih tinggi dari negara-negara lain Asia Tenggara seperti Myanmar 35 persen, Vietnam 23 persen dan Thailand 16 persen. Semua harus terlibat untuk menyikapi masalah ini,” tegasnya.

print