Gaji Kecil, Banyak Kesenjangan, Apoteker Lebih Pilih Berswasta Ketimbang di Puskesmas

0
729
[Suasana seminar nasional tentang apoteker di Aula STIFI Bhakti Pertiwi Palembang – Foto : Arto/beritasebelas.com]

Arto

beritasebelas.com, Palembang – Fenomene apoteker di Indonesia, terutama Sumatera Selatan belakangan ini semakin miris. Kesenjangan sosial yang dialaminya membuat para apoteker banyak hijrah ke swasta bahkan tak sedikit yang banting stir.

Keadaan ini diperparah dengan lulusan apoteker yang meningkat dari tahun ke tahun, namun formula gaji mereka yang mengalami kesenjangan, memaksa mereka lebih memilih swasta ketimbang berkerja di Puskesmas. Dan fenomena miris ini diperkuat dengan data bahwa dari 2.000 apoteker di Sumatera Selatan, 54 memilih mengabdi di Puskesmas.

Demikian mengemuka pada seminar Nasional yang digelar Himpunan Farmasi Kesehatan Farmasi Masyarakat (Hiferkesmas) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bekerjasama dengan STIFI Bhakti Pertiwi Palembang.

Digelar di Aula STIE Bhakti Pertiwi Palembang, Sabtu 13 Oktober 2018, sejumlah isu penting juga turut dibahas mengenai apoteker dengan mengambil tajuk “Peningkatan Kompetensi Tenaga Kefarmasian dalam Pengelolaan Obat di Fasilitas Kesehatan dan Rapat Kerja Daerah Hisfarkesmas Sumatera Selatan”

Kehadiran apoteker dalam dunia medis memiliki peran cukup penting. Sebagai peracik obat, apoteker juga merupakan ujung tombak untuk memberikan kesehatan terhadap pasien.

Dihadiri oleh Drs Burharudin Gumay, Apt, MM Ketua Dewan Pengurus IAI, Indri Mulyani Bunyamin, S Farm Apt sebagai Ketua PP Hisfarkesmas, Robi Kurniawan, S.Si Apt sebagai Ketua PD IAI yang diwakili Teddy Wirawan Msi. Apt serta Drs Muhammad Rizal. Apt sebagai narasumber. Acara ini juga didukung dengan kehadiran peserta seminar dari berbagai Apoteker Sumatera Selatan dan TTK (Tenaga Teknis Kefarmasian).

Dijelaskan Meliasi Nora Pratamarta S.Farm Apt Ketua Pengurus Daerah Hisfarkesmas Sumatera Selatan, acara ini sebagai wadah perkumpulan apoteker di Sumatera Selatan.

“Hisferkesmas (Himpunan Farmasi Kesehatan Farmasi Masyarakat), dibentuk baru tahun 2018 kemarin di Riau. Kita adakan di STIFI ini, karena pemiliknya Novrizon merupakan kawan sejawat PD Sumsel Apoteker. Terima kasih untuk beliau, karena telah membantu mensukseskan acara dan memfasilitasi tempat,” katanya.

Sementara tujuan kegiatan ini pun sebagai rancangan kerja tahunan dalam kegiatan ilmiah untuk akhir pengurusan sosialisasi di kabupaten dan kota tahun 2022.

“Tujuan sosialisasi supaya apoteker berminat bekerja di Puskesmas. Kemudian untuk meningkatkan kompetensi mereka sesuai standar kompetensi, tentang kemampuan utama menurut Permenkes nomor 377 tahun 2009, dalam jabatan fungsional apoteker dan angka kreditnya. Hari ini peserta tembus target 320 orang, terdiri dari 120 TTK (Tenaga Teknis Kefarmasian) dan 200 Apoteker,”tambah Meliasi.

Dari data yang dihimpun, total apoteker di Sumatera Selatan jumlahnya mencapai 2.000 orang, namun apoteker Puskesmas hanya berada di angka 54 orang saja.

“Sangat disayangkan dengan jumlah tersebut. Maka nya nanti ada program baru dari pemerintah. Namanya, program Apoteker Nusantara sehat. Di mana Apoteker tidak hanya nendapatkan imbalan jasa, tapi akan diperlakukan dengan sangat baik. Hal ini pun demi menunjang daerah terpencil agar Puskesmasnya tersentuh,”jelas dia.

Apoteker memiliki peran vital dalam kesehatan ini juga sebenarnya harus memberi JKN (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Lalu mendapatkan akreditasi yang bagus.

“Standar Puskesmas seharusnya harus memiliki satu Apoteker dalam satu instansi Puskesmas. Tapi ini masih banyak yang belum, makanya hari ini kita juga akan bahas dan mensosialisasikannya. Contoh kecil saja, daerah saya Musi Rawas ada 19 Puskesmas, tapi hanya ada 4 Apoteker. Jadi 1 Apoteker bisa menaungi 3-4 Puskesmas,” ujarnya yang juga menjabat sebagai  Ketua Bidang 1 Sumber Daya Kefarmasian di kepengurusan Pengurus Pusat Hisferkesmas ini.

Ia menambahkan dalam seminar sosialisasi juga bermanfaat untuk masa perubahan paradigma pemberian obat. Misalnya menjadikan Apoteker sebagai pasien centre. Jadi Apoteker akan memberi tujuan obat sesuai terhadap pasien, kemudian mengatur tata kelola obat. Sebagai keberhasilan untuk Germas (gerakan masyarakat).

Diharapkan melalui seminar Nasional ini dapat menutup poin penting mengenai peningkatan kualitas Apoteker dengan kesejahteraan nya.

print