Jual Gas 3 Kg di Atas HET, Izin Pangkalan Akan Dicabut

0
10
[Sanderson Syafe’i. ST,SH]

A Yudiansyah

beritasebelas.com,Lahat – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (gas melon), di Kabupaten Lahat beberapa minggu terakhir, membuat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lahat Raya gerah, dan memberikan peringatan keras kepada para pengusaha pangkalan supaya tidak menjual gas elpiji 3 kg (bersubsidi),  melebihi HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 16.500.  Jika ada pangkalan yang ketahuan melanggar ketentuan tersebut, surat keterangan usaha (SKU) pangkalannya akan direkomendasikan dicabut dan tidak akan diberi pasokan barang dari Pertamina.

“Sanksi peringatan hanya sampai 2 kali saja dari Pertamina. Jika sampai 2  kali peringatan tetap saja melanggar, SKU-nya akan langsung dicabut. Resikonya pangkalan tersebut tidak akan mendapatkan lagi distribusi dari Pertamina,” ujar Ketua YLKI Lahat, Sanderson Syafe’i. ST,SH, Senin, 1 Oktober 2018.

Menurut Sanderson,  ketegasan itu dirasa perlu dilakukan, karena cukup banyak  pangkalan yang menjual elpiji 3 kg  di atas HET yang telah ditetapkan. Bahkan dirinya sempat menyaksikan langsung, ada pangkalan yang terang-terangan menjual  dengan harga mencapai Rp 18.000.

“Padahal, di plang pangkalan jelas-jelas terpampang HET-nya hanya Rp 16.500 per tabung,” sambungnya.

Mereka berdalih, menaikan harga dari HET, di antaranya untuk mengganti ongkos transport, karena barangnya langsung dikirim ke warung eceran. Padahal, warung tersebut binaan mereka. Sudah menjadi aturan dan kewajiban pangkalan, barangnya harus diantar langsung ke warung binaannya, tanpa memungut lagi ongkos transport.

“Pangkalan juga kan binaan agen. Agen pun mengantar barangnya sampai ke tempat pangkalan. Jadi, tidak ada alasan, elpiji 3 kg bersubsidi harus dijual sesuai HET Rp 16.500. Apalagi dengan HET sebesar itu, pangkalan sudah mengantongi  keuntungan,” imbuhnya.

Sanderson menilai, akibat harga elpiji di pangkalan yang dijual di atas HET,  dampaknya harga di warung eceran pun meroket hingga memberatkan masyarakat tidak mampu. Harga eceran di warung rata-rata lebih dari Rp 23.000 per tabung.

Ada yang Rp 25.000, bahkan sempat di wilayah Desa  harganya menembus Rp 30.000 per tabung.

“Tindakan tersebut, jelas melanggar aturan.  “Kalau dihitung, selisih dari  HET sampai harga di tangan konsumen begitu besar, sehingga memberatkan warga miskin yang menjadi sasaran subsidi. Saya sudah meminta kepada Pertamina,  jika ada pangkalan yang melanggar HET, segera cabut SKU-nya,” tegas Sanderson.

print