Kekerasan Terhadap Perempuan Masih Cukup Tinggi di OKU

0
61

Bagus

beritasebelas.com,Baturaja – Di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tindak kekerasan terhadap kaum perempuan ternyata masih terbilang tinggi, hal tersebut dikatakan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) OKU Hj Indrawati Syahrial saat dibincangi, Kamis 18 Januari 2018.

Menurutnya sepanjang tahun 2017 saja, P2TP2A mencatat ada 12 kasus penganiayaan dalam rumah tangga yang dialami anak dan perempuan.

[Ketua P2TP2A Hj Indrawati Syahrial – foto Bagus beritasebelas]
“Jumlah kekerasan terhadap anak dan perempuan masih dibilang tinggi, tapi untuk tahun 2017 ini mengalami penurunan dibanding tahun 2016 lalu, namun untuk jumlahnya saya lupa tapi diatasnya 20an kasus,” kata Indrawati.

Banyaknya kasus kekerasan tersebut, kata dia, paling banyak dialami kaum perempuan yang dianiaya oleh suami disebabkan masalah rumah tangga.

“Sejauh ini penyebab kasus kekerasan dalam rumah tangga khususnya yang dialami perempuan karena faktor ekonomi,” ungkapnya.

Selain itu, sifat perempuan yang cerewet hingga terjadi perdebatan antara suami dan isteri juga menjadi pemicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Dia mengatakan, upaya yang dilakukan oleh pihaknya terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga itu dengan memberikan pendampingan hukum, visum dokter hingga psikolog.

Bahkan lanjut dia, P2TP2A OKU pada tahun lalu gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat guna mencegah terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang dialami anak ataupun perempuan di wilayah itu.

Sosialisasi yang dilakukan tersebut, lanjut dia, memberikan pemahaman kepada pasangan suami isteri agar membicarakan setiap masalah rumah tangga dengan kepala dingin.

“Kekerasan tidak akan terjadi jika suatu masalah dibicarakan tanpa perdebatan. Dengan begitu perempuan juga tidak menjadi objek penganiayaan yang dilakukan suami,” kata dia.

Indrawati juga mengatakan jika saat ini kaum perempuan di OKU juga sudah mulai berangsur memahami arti kekerasan dalam rumah tangga, hanya saja belum bisa membedakan antara kekerasan fisik dan kekerasan pisikologi atau kekerasan mental yang sering dilakukan oleh kaum laki-laki yang tanpa disadari

“Itu semua akan kita akan lakukan saat penyuluhan dan sosialisasi yang akan kita laksanakan di tahun ini,” pungkasnya.

print