Ketua Komisi XI DPR RI, Sulit Capai Target Penerimaan Tax Amnesty

0
59

kop-dalam-berita

oleh Yuansa – foto Yuansa

beritasebelas.com,Palembang – Program Tax Amnesty atau pengampunan pajak yang digalakan oleh pemerintah cukup membantu dalam mengatasi defisit keuangan negara.

Tapi Ketua Komisi XI DPR RI Ahmad Hafiz Tohir menyatakan, sulit bagi pemerintah untuk mencapai target penerimaan dari Tax Amnesty dari repatriasi mendekati deadline periode kedua.

kader-pan
[Anggota DPRD Kota Palembang, dan kader Paertai Amanat Nasional mengikuti kegiatan reses Ketua Komisi XI DPR RI Ahmad Hafiz Tohir di Kantor DPD Partai PAN Kota Palembang]
“Memang target pendapatan APBN pemerintah lebih tinggi dan tidak mungkin dicapai. Jelas amnesty pajak ini membantu,” terang Pria Kelahiran Kabupaten Ogan Komerin Ilir ini.

Menurutnya, dengan adanya program Tax Amnesty ini akan membantu penerimaan negara melalui pajak. Dikatakannya dari program Tax Amnesty tahun ini ditutup dengan pencapaian Rp 165 triliun sangat sulit  tercapai.

Melihat perjalanan dari nilai Rp 130 ke Rp 140 triliun sudah 2 bulan, padahal deadline periode kedua ini tinggal 2 minggu lagi. Pencapaian  85% untuk termin ke dua. Tapi  target untuk pencapaian Rp 1.000 triliun sulit tercapai.

“Tax Amnesti yang galakan Indonesia terbilang sukses dunia, namun pemerintah terlalu tinggi dalam penetapan target. Untuk deklarasi Rp 4.000 triliun, terkumpul dana Rp 4.500 triliun tercapai 100% lebih,  namun untuk ekspatriasi Rp1.000 triliun masih belum tercapai untuk periode kedua,” ungkap Politisi PAN ini.

Hafiz menambahkan kenapa Repratriasi belum tercapai ?.  Hal ini menunjukan pertama sistem perpajakan kita belum menarik. Kedua situasi politik pasca pemilihan presiden belum kondusif. Kondisi ini membuat investor takut berinvestasi di Indonesia.

“Jika dalam hitungan funder ditengah kondisi politik saat ini sangat kecil memasukan duit,” ungkapnya.

Dikatakan Hafiz kenapa dana asing milik WNI masih sulit masuk ke Indonesia. Yang pertama kinerja keuangan negara. Kedua kinerja pemerintah. Ketiga kondisi politik. Akan tetapi Hafiz menjelaskan justru yang ketiga 50 % pengaruhnya terhadap minat repatriasi ke Indonesia.

“Pemerintah mesti mencari formula untuk menciptakan kondisi damai. Win win solusion perlu di perhitungkan,” ulasnya.

Seperti masa Pemerintahan SBY lanjut Hafiz, tahun kedua semua melupakan kegaduhan saat pemilihan presiden. Masuk ke masa membangun negeri.

“Kondisi Politik tahun kedua sedikit mengalami gangguan, orang luar melihat ini sebuah perbedaan,” pungkasnya.

print

TINGGALKAN KOMENTAR