Komunikasi Membuka Isolasi

0
42

Haqulana

beritasebelas.com,Banyuasin – Waktu menunjukkan pukul 16.00 Wib, mentari mulai redup menguning menyelusup diantara rimbun dedaunan di kawasan Desa Telang Indah Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin.

Sekelompok warga, laki-laki, perempuan dan mayoritas muda-mudi terlihat sibuk dengan ponsel masing-masing. Ada yang ditempelkan di telinga, ada yang nampak serius memencet android ada pula yang senyum-senyum sendiri sambil melihat layar ponsel.

[Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuasin bersama Plt Bupati Banyuasin SA Supriono saat menerima penghargaan dalam penerapan smart city]
Sepintas tidak ada yang aneh dengan aktifitas mereka, namun bila dilihat lebih seksama orang-orang itu nampak mengumpul di suatu titik. Itu sengaja dilakukan guna mendapatkan sinyal lebih jernih. Karena hanya sedikit dari wilayah itu bisa dipakai warga untuk memfungsikan ponselnya. Jangankan sinyal internet, untuk SMS saja susah.

Kondisi ini kerap menyulitkan warga, mereka harus berjalan jauh agar bisa melakukan komunikasi dengan ponsel. Apalagi bila terjadi insiden, yang butuh informasi cepat. Tidak jarang warga Desa itu juga telat mendapat informasi penting dari pemerintahan kecamatan atau kabupaten.

Kasi Umum Kecamatan Muara Telang, Sobri mengatakan, masih banyak wilayah Kecamatan Muara Telang yang sulit mendapatkan sinyal telekomunikasi. Tidak hanya di Desa Telang Indah, Desa Telang Jaya yang merupakan ibu kota kecamatan juga kurang sinyal, terlebih untuk jaringan internet.

“Padahal kami sudah pasang antena  hingga 60 meter tapi masih sulit untuk internet,” katanya.

Pihak Desa maupun kecamatan sudah sejak lama mengusulkan agar wilayah itu dipasang tower provider, tapi hingga saat ini belum makaimal.

“Pada Musrenbang (Musyawarah Rencana Penbangunan, red) tahun ini sudah kami usulkan lagi,” katanya.

Dia melanjutkan, ketersediaan jaringan komunikasi maupun internet sangat dibutuhkan. Apalagi Banyuasin mulai menerapkan Sistem Informasi Manajemen Daerah (Simda) yang lebih memanfaatkan aplikasi komputer dan jaringan internet dalam pelaporan, data base, pelayanan publik dan kegiatan pemerintahan lainnya.

“Untuk pelaporan, kami terpaksa pakai modem dari ponsel, itupun hanya bisa upload data, kalau gambar, lebih sering gagal nya,” jelas dia.

Kondisi ini juga membuat warga sekitar agak tertinggal dibanding daerah lain. Di saat orang-orang sudah bisa menghasilkan uang lewat website dan berburu subscribe di youtube, warga di sini masih sibuk mencari sinyal.

“Padahal di sini banyak potensi yang bernilai ekonomi, seperti hasil udang, ikan, palawija dan lain-lain,” katanya.

Namun tingginya rasa ingin tahu warga, membuat mereka rela berjalan belasan kilo meter untuk sekedar menelpon atau berselancar di dunia maya.

“Niatnya ingin maju sangat besar, hanya fasilitas belum mendukung,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuasin Erwin Ibrahim mengakui, dari 315 desa/kelurahan di Banyuaisn hampir  250 desa yang sudah dapat sinyal telekomunikaai sedangkan sisanya belum.

“Tapi kami telah melakukan regulasi, konsep dan infrastruktur tidak hanya untuk menyebar jaringan telekomunikasi di Banyuasin tapi, membuat kabupaten yang terpencar dengan banyaknya kawasan perairan ini terkoneksi melalui konsep smart city,” katanya.

Dengan konsep ini, akan memperbaiki pelayanan publik menjasi lebih murah, mudah transparan dan efesien.

“Semua pelayanan bisa diakses hanya lewat ponsel, mulai dari perizinan, bayar pajak, ngurus KTP, bahkan sampai boking kamar untuk rawat inap di rumah sakit,” jelasnya.

Pihaknya juga membuka ruang bagi setiap desa untuk mengeskplor semua potensi yang dimiliki. Baik pariwisata, budaya, kerajinan dan hasil bumi yang dapat dijadikan komoditi ekonomi.

“Semua desa bakal memiliki website sendiri yang tersambung dengan website Pemkab Banyuasun. Ini sudah mulai jalan, Kominfo telah membuat website untuk desa-desa dan tidak dipungut biaya,” katanya.

Selain itu pihaknya telah memfasilitasi terbentuknya Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang dibentuk oleh masyarakat dari masyarakat dan untuk masyarakat secara mandiri dan kreatif yang aktivitasnya melakukan kegiatan pengelolaan informasi dan pemberdayaan masyarakaat dalam rangka meningkatkan nilai tambah. “Di sejumlah kecamatan sudah mulai jalan,” katanya.

Berkat keseriusan Banyuasin dalam bidang telekomunikasi dan informatika tersebut, Banyuasin masuk dalam 25 besar kabupaten yang dipilih Kementerian Kominfo untuk menjadi percontohan kabupaten smart city dari 514 kabupaten. “Setelah masuk 25 besar ini ada beberapa tahapan yang harus dilakukan menuju smart city,” jelasnya.

Tidak sedikit dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan kota percontohan ini, pemerintah akan menggaet investor atau dari bank dunia untuk membantu 25 besar ini.

“Nanti bila pemerintah ingin menciptakan kota cerdas Nasional 25 kota ini lah yang menjadi pilot projec,” katanya.

Dia melanjutkan, smart city tidak hanya sebatas di Kominfo dan bagian IT saja, semua Organisasi Perangkat Daerah harus terlibat. Bagaimana mau smart city bila jalan masih rusak, listrik belum hidup dan jaringan telekomunikasi belum ada.

“Dimulai dari konsep smart city ini perbaikan infrastruktur juga mengikuti,” katanya.

Guna mencapai hasil akhirnya ada program jangka pendek, jangka panjang dan menengah yang harus dilalui. Untuk jangka pendek seperi yang dihadapi sekarang dengan membuat aplikasi, melatih SDM dan membuka jaringan. Untuk jaringan, tahun ini sudah ada 12 provider yang diberikan rekomendasi mendirikan tower.

“Diantaranya dari Telkomsel di Desa Bon Kecanatan Rambutan, Desa Tanjung Marbu Kecamatan Rambutan, Desa Sukarela Kecamatan Rantau Bayur dan Desa Kuala Puntian di Tanjung Lago,” katanya.

 

 

print