Melintas Dijalan Umum, Tronton Pengangkut Batubara ini Dihadang Ratusan Massa, Padahal !

0
196
[Tronton pengangkut batubara dipaksa putar arah oleh ratusan massa – foto  A Yudiansyah beritasebelas]

A Yudiansyah

beritasebelas.com, Lahat – Pasca diberlakukannya peraturan yang tidak memperbolehkan kendaraan jenis truk dan sejenisnya melintas di Jalan Lintas Sumatera, ratusan massa yang diduga berasal dari sopir dan transportir angkutan batubara ini menghadang dan memaksa sebuah mobil tronton putar arah, karena kedapatan nekat melintas di Jalinsum, tepatnya di Kecamatan Merapi Barat.

Usut punya usut, ternyata mobil tronton yang akan melintas itu diketahui milik beberapa perusahaan yang selama ini memang menggunakan jalur khusus kereta api. Massa menuding adanya ketidakadilan, karena walaupun pihak perusahaan menggunakan jasa angkutan kereta api, tetapi untuk membawa batubara dari tambang menuju stasiun masih tetap memakai jalan umum.

“Kita menuntut agar aturan yang sudah ditetapkan Gubernur Sumsel juga berlaku untuk jalan di Kabupaten Lahat. Aturannya kan jelas, dilarang melintas di jalur umum,”ujar Endriansyah, salah satu transportir angkutan batu bara, Sabtu 10 November 2018.

Massa sudah melakukan aksi sejak Jumat 9 November 2018 kemarin, masih akan terus melakukan aksinya hingga benar-benar tidak ada angkutan batubara yang melintas. Massa juga mengancam akan melakukan aksi demo besar-besaran jika kedapatan ada perlakukan istimewa untuk angkutan jalur khusus boleh melintas di jalan umum di Kabupaten Lahat.

“Ini sebuah ketimpangan, kenapa mentang-mentang mereka menggunakan jalur kereta api tetap boleh melintas di sini. Padahal kan kalau memang tidak diperbolehkan, semuanya harus patuh pada aturan dengan tidak melintas di jalur umum,” tegasnya.

Dari informasi yang didapat, diketahui ada beberapa perusahaan yang selama ini mengangkut batubara melewati jalur khusus milik PT Titan dan PT Kereta Api. Diantaranya PT MAS, PT BAU, PT GGB dan PT RUBS, mendapatkan kebijakan dari Gubernur Sumatera Selatan, boleh melintas di jalan umum menuju tempat pengangkutan.

“Aturan ini harusnya diberlakukan di setiap daerah dan kabupaten. Kalau modelnya begini tetap saja Lahat ini akan terus menerus dilalui truk-truk batubara. Desa kami masih bakal dipenuhi debu, anak cucu kami masih rawan jadi korban truk besar itu,” keluh M Jabbar, warga setempat.

print