Menakar Kekuatan Petahana di Ibukota

0
133

Penulis Prasetyo Nugraha

Bola salju anti penistaan agama di teras politik DKI Jakarta terus bergelinding, sejak digelarnya gerakan bela Islam pengawal fatwa MUI di ruang publik.  Arus massa yang begitu deras terkesan tampak bola dibalik arahnya dengan ditandai kriminalisasi atas sejumlah ulama, para tokoh dan telah ada sebagiannya kini telah mendekam di balik jeruji atas tuduhan makar, pengulingan kekuasaan.

Namun, secara konsisten dan konsekuen gerakan terus membesar, serta perlahan namun pasti hingga kini hampir masuk dalam puncak klimaksnya. Subjek dari penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang telah duduk dikursi dakwaan hakim berharap penuh untuk kembali duduk dikursi Gubernur DKI Jakarta, namun kini harus berwas-was diri karena bisa jadi kursi gubernur dan wakil gubernur berpaling kepada pesaingnya Anies BaswedanSandiaga Uno yang paling mungkin berpeluang bersaing memperebutkan kursi DKI 1, melihat hasil Pilkada pada 15 Februari 2017 dari hasil perhitungan cepat beberapa lembaga survei kemarin dari tangan Petahana

Pilkada di DKI Jakarta memang sangat menarik dicermati, karena akan menjadi barometer politik Nasional dan kiblat politik dari berbagai daerah di seluruh penjuru  Indonesia, maka beragam kepentingan, dan tidak menutup kemungkinan “Pemodal” baik dari dalam apalagi dari luar negeri dipertaruhkan, sehingga wajar seluruh lensa kamera tertuju pada Pilkada DKI, dari “halaman depan hingga dapur dan jemuran” dipertontonkan, makin terbuka  makin seksi Pilkada DKI Jakarta diamati.

Namun di atas itu semua, kasus membelit calon petahanalah biang dari musababnya, penistaan yang diucapkan terlanjur melukai keberagamaan di Indonesia. Kesan hegemonik dan kooptasi kekuasaan justru menjadi muasal kegaduhaan dan merusak keragaman pada beberapa dekade jelang Pilkada serentak 2017.

Di ambang batas kewajaran ditengah kelompok kepentingan dan kelompok pemodal, kekuatan rakyat (people power) dari kalangan Umat Islam menjadi kekuatan penyeimbang, yang tujuannya hanya sebuah tuntutan keadilan, demi tegaknya hukum di Indonesia.

Dari hasil perhitungan cepat dari beberapa lembaga survey, antaranya Litbang Kompas pasangan calon Gubernur-Wakil gubernur DKI Jakarta Nomor urut 1 Agus Harimurti YudhoyonoSylviana Murni 17.37 persen.Kemudian nomor urut 2 Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat sebesar 42.87 persen dan nomor tiga, Anies BaswedanSandiaga Uno dengan 39.76 persen.

Dan hasil perhitungan cepat Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Nomor urut 1 Agus Harimurti YudhoyonoSylviana Murni 16.71 persen. Kemudian nomor urut 2 Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat sebesar 43.17 persen dan nomor tiga, Anies BaswedanSandiaga Uno dengan 40.10 persen.

Sedangkan Lingkaran Survei Indonesia pasangan Agus Harimurti YudhoyonoSylviana Murni 16..9 persen. Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat sebesar 44.0 persen. Anies BaswedanSandiaga Uno dengan 39.1 persen

Prediksi Kemenangan Petahana

Hasil perhitungan cepat Pilkada DKI Jakarta 2017 dari ketiga sampel lembaga survey yang melakukan perhitungan cepat pada Pilkada DKI Jakarta sudah dipastikan dari beberapa lembaga survei akan berlangsung dua putaran karena tidak sampai menyentuh angka 50% + 1 perolehan suara sementara untuk pasangan nomor urut satu tertinggal jauh, jadi untuk Pilkada Putaran Dua akan berlangsung antara pasangan calon Petahana Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat dan pasangan calon Anies BaswedanSandiaga Uno.

Jika perhitungan hasil dari beberapa lembaga survey ini benar secara otomatis pasangan Agus Harimurti YudhoyonoSylviana Murni dengan segala konfigurasi politiknya akan mengarah ke salah satu kandidat dan dipastikan untuk sementara ini dukungan diberikan kepada Anies BaswedanSandiaga Uno.

Dari analisa tersebut, predictably peluang Pertahana untuk memenangkan kembali kontestasi semakin menipis, sebagaimana disebutkan dalam buku The Survival Politics, bahwa tiga faktor kunci kemenangan calon-calon pertahana pada Negara demokrasi dalam setiap pemilihan ; (1) Konsistensi dalam menjaga winning coalition,  (2) Mampu menjaga kesetiaan pemilihnya, dan (3) Memiliki komunikasi politik yang baik.

Dari ketiga faktor tersebut di atas, dapat  dibayangkan bagaimana posisi politik petahana ditambah secara konsistensi gerakan pembela Islam yang terus menuntut Ahok agar diadili, maka meminjam teori Anthoni Down (1957) bahwa orientasi pemilih dalam menentukan sikapnya dipengaruhi oleh dua hal, yakni orientasi isu dan figur kandidat.

Maka bedasarkan premis-premis tersebut semakin membuat peluang kemenangan petahana menjadi tertutup.

Masa Tunggu

Usai pelaksanaan Pilkada serentak 2017 pada umumnya dan Pilkada DKI Jakarta pada khususnya yang baru saja diselenggarakan, sudah sekiranya semua pihak dari peserta menahan diri menunggu kepastian dari keputusan akhir yang akan ditetapkan oleh pihak penyelenggara, apakah harus diselenggarakannya putaran selanjutnya atau siapa-siapa pasangan calon ditetapkan masuk dalam gelanggang pertarungan berikutnya.

Bagi “pihak luar” cukup hanya mengontrol dan mengawal proses penghitungan, tidak perlu intervensi apalagi subversi dengan menuduh yang hanya membikin gaduh, biarkan pihak penyelenggara bekerja secara profesional. Begitupun pihak people power, biarlah masyarakat Jakarta sendiri yang memutuskan kehendaknya sendiri karena fokus dari gerakan utamanya adalah keadilan dan demi tegaknya hukum di Indonesia

Penutup

Dalam posisi menunggu kepastian hasil Pilkada seperti saat ini, semua rakyat Indonesia sedang berharap cemas. Berharap diri atau jagoannya dapat memenangi kompetisi dan cemas menanti hasil pasti penetapan akhir dari rekapitulasi dari pihak penyelenggara.

Semua kita berharap agar daerah-daerah yang menyelengarakan Pilkada serentak tahun 2017 semoga mendapat pemimpin yang berkepribadian atau berakhlak mulia (integritas), visioner (memiliki pandangan maju kedepan), sensibilitas (keberpihakan dengan rakyat kecil), dan amanah (tanggung jawab).

Kembali di atas itu semua, tentunya hukum tidak boleh ditegakkan dengan benang basah yang hanya membuat masuk angin para penegaknya, seyogyanya politik harus mengikuti hukum, karena hukum adalah penglimanya. Sekali lagi segenap tumpah darah meski nun jauh dari Jakarta, dari Sabang hingga Marauke berharap dan mendoakan yang terbaik untuk ibu kota Indonesia.

BIODATA PENULIS

Nama                   : Prasetyo Nugraha

Jenis Kelamin        : Laki-laki

Agama                 : Islam

Status                  : Kawin

Data Keluarga

Istri                     : Dwi Angraini, SH

Anak                   : Ukasyah A. Pranude

Alamat

  1. Palembang        : Jl. S.M.Mansyur Rt07 No. 45/68
  2. Lubuklinggau     : Jl. Pioner Rt. 8 No. 65

Pendidikan terakhir  S2

Pengalaman Organisasi

  1. Fungsionaris Gerakan Pemuda Nusantara
  2. Sekretaris Presidium Sumsel Barat

 

Iklan

 

print