Pilkada Lubuk Linggau 2018 dan Dilema Calon Petahana

0
277

Prasetyo Nugraha

beritasebelas.com,Lubuk Linggau – Dalam kurun sepekan peta politik kian memanas paska terbitnya beberapa surat keputusan dari pengurus pusat partai politik terkait dengan penetapan pasangan calon yang akan bertarung dalam gelanggan Pilkada Kota Lubuklinggau 2018.

Sebut saja pasangan H Rustam Effendi dan Riezky Aprilia yang telah ditetapkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai Bakal Calon Walikota dan Bakal Calon Wakil Walikota Lubuklinggau, maju sebagai pasangan calon penantang Petahana.

[Prasetyo Nugraha]
Disamping itu, tentunya adalah pasangan Petahana itu sendiri, H SN Prana Putra Sohe dan Sulaiman Kohar dalam sepekan ini telah memperoleh dukungan dari Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tidak berhenti disitu saja, klaimnya seluruh partai politik selain dua di atas (pengusung pasangan penantang Petahana) akan masuk dalam lingkaran pasangan Petahana.

Tentu saja saya tidak ingin membawa tulisan ini pada diskusi intramural seperti itu. Apalagi tidak menutup kemungkinan ada pasangan calon lain juga mau masuk dalam gelanggang. Jelasnya. Setuju atau tidak, dimana-dimana menjelang Pemilihan Umum posisi Calon Petahana selalu di atas angin, itulah faktanya.

Namun Satire, pasangan Petahana jilid dua yang begitu mesra tampak dipermukaan. Bahkan disamping itu, duet dengan tagline “NANSUKO 1823” ini pun sudah santer diberitakan dan dideklarasikan baik melalui spanduk, baliho maupun billboard, dsb yang menegaskan pasangan ini konsisten akan bersama kembali untuk membangun Lubuklinggau 2018-2023 ternyata hanya pepesan kosong.

Pasalnya, indikator putusan partai tentang penetapan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah Kota lubuklinggau hanya menetapkan H SN Prana Putra Sohe sebagai Bakal Calon Walikota tanpa sedikitpun menyinggung nama calon Wakil Walikota.

Menakar Kekuatan Petahana

Dalam hal ini tentu kita tidak berbicara tentang full-blown democratization atau apalagi membahas peta dukungan calon pasangan. Kesalahan sekecil atau sedikit apapun dibanyak pengalaman Pilkada, telah banyak menumbangkan Petahana.

Dalam buku The Survival Politics dijelaskan bahwa terdapat tiga faktor calon Petahana dalam setiap pemilihan pada Negara-negara demokrasi dipastikan dapat kembali memenangkan pemilu, yakni pertama Konsistensi dalam menjaga winning coalition, kedua mampu menjaga kesetiaan pemilihnya, dan ketiga memiliki komunikasi politik yang jitu.

Dari kerangka logika diatas,  dirasa sangat kompatibel dan relevan diterapkan untuk menakar peta perpolitikan Kota Lubuklinggau khususnya calon Petahana

Pertama, konsistensi dalam menjaga winning coalition. Dari penjelasan sebelumnya, bakal terjadi pecah kongsi antara pasangan Petahana, Wakil Walikota tidak kembali diposisikan sebagai Bakal Calon Wakil Walikota. Ketidakmampuan Petahana dalam mencumbu-mesrakan pasangannya tersebut tidak bisa dianggap sepele, kefatalan dari ketidakmampuan menjaga “koalisi” adalah kehancuran.

Kedua, menjaga kesetiaan pemilihnya. Menilik kebelakang, konstituen terbesar menyumbang kemenagan Nan-Suko (2013) adalah didominasi masyarakat Musi, nyaris 99% suara Musi diperuntukkan untuk kemenangan Nan-Suko 2013, karena memang Sulaiman Kohar merupakan tokoh yang dihormati. Tetapi, apabila peta winning coalition di atas berubah, ditambah ketidakmampuan merawat suara dan kesetian masyarakat dibuat mengambang. Alhasil, dengan mudah diproyeksikan potret Musi sebagai lumbung suara pada Pilkada 2013 akan sangat berbeda dan bahkan berbanding terbalik pada Pilkada 2018 nantinya.

Ketiga, komunikasi politik yang jitu, tidak dapat disangsikan bahwa sebagai seorang Walikota, Bakal Calon Petanaha Lubuklinggau dipastikan sangat piawai dalam berkomunikasi politik. Tetapi, tekait dengan klaim “borong” dukungan partai politik harus dibuktikan di ruang publik. Jika tidak, track record Petahana kembali disangsikan publik.

Dilema Petahana

Sintesis yang dikemukan didepan tidak lahir dari ruang hampa, tidak halnya pergulatan dari politik tanah air, bahkan ia lahir dalam banyak pengalaman politik dunia yang menganut demokrasi.

Oswald Spengler (1880-1936), Dalam karya fenomenalnya berpikir dan bertindak laksana seorang ahli nujum dalam meramalkan keruntuhan Eropa, ”Der Untergang des Abendlandes”. Menerangkan, seperti dalam historis-materialisme dimana sejarah bergerak secara dialektis berdasarkan hukum sejarahnya, tumbuh kemudian berkembang lalu mati. Pungkasnya mempelajari sejarah bertujuan untuk mengetahui (diagnose) seperti seorang dokter menentukan sifat seorang penderita. Sesudah diagnose ditentukan nasib penderita itu, kemudian dapat diramalkan sehingga untuk seterusnya penderita tadi dapat ditentukan gejala kedepan yang bakal terjadi.

Dilema Calon Petahana, salah satunya ialah terjerambab dalam jebakan self-delusion. Meski debatable, tegas harus disampaikan self-delusion pertama adalah sukses dalam membangun kota dan kedua bargaining dukungan partai besar. Bahkan di kalangan intelektual, kalau kita mengikuti perkembangan literatur studi kawasan dan pembangunan, Lubuklinggau cukup diperhitungkan dan menjadi kota perhatian Nasional, menyilaukan? mantab?. That’s the point Linggau Bisa.

Dengan demikian, delusi semacam itu tidak mungkin bisa dihindarkan. Pertaruhannya terlalu besar, jika terbuai sendiri dengan sukses yang telah diraih sejauh ini, menyilaukan tetapi sangat menipu.

Penutup

Pilkada 2018 masih panjang, genderang perangnya secara resmi belum ditabuhkan, last minute pun masih banyak bisa di ubah, cukup waktu untuk memperbaikinya atau sebaliknya tidak butuh banyak waktu untuk membuatnya semakin hancur.

Dalam politik, hanya satu hal yang pasti siklus politik adalah bagian dari hukum alam, seperti gravitasi. Bahkan cukup beralasan untuk berkata bahwa semakin lama terjebak dalam delusi, semakin destruktif pula dampaknya jika pada akhirnya itu terjadi.

Dalam kontek Petahana Lubuklinggau, melalui pendekatan The Survival Politics, perbaikan harus dimulai dalam menjaga konsistensi winning coalition. Jika Tidak, ditambah dengan bermunculannya wajah-wajah bersahaja dan fresh pada kontestasi politik 2018 mendatang. Maka predictble, Petahana Lubuklinggau diambang kekalahan.

 

 

 

print