Selama 71 Tahun Desa Lubuk Pauh Hanya Di Terangi Lampu Kaleng Dan Senter

0
152

beritasebelas.com

****

oleh Hasim

Beritasebelas.com, Muara Beliti – Usia Indonesia sudah 71 tahun, tapi bagi warga yang tinggal di Desa Lubuk Pauh Kecamatan BTS Ulu Kabupaten Musi Rawas, usia kemerdekaan 71 tahun ini belum sepenuhnya dapat di nikmati seperti saudara mereka lainnya yang tinggal di Republik ini.

Desa Lubuk Pauh termasuk salah satu desa di Kabupaten Musi Rawas, yang belum di aliri cahaya listrik hingga saat ini dari 185 desa yang ada. Kondisi akses jalan menuju ke desa masih jalan tanah yang belum beraspal mengakibatkan desa ini sulit untuk di tembus.

Selain warganya belum bisa menikmati aliran listrik, jaringan handphone juga tidak dapat di akses, sehingga komunikasi masyarkat sangat terbatas. Sebenarnya di desa yang rata-rata memiliki rumah semi panggung beratap seng, dan sebagian rumah depok berdinding kayu ini sudah terpasang tiang-tiang listrik, berikut jaringan kabel sejak tahun 2011 lalu, tapi hingga saat ini listriknya belum menyala.

Cahaya listrik sangat di butuhkan warga Desa Lubuk Pauh, karena untuk membedakan gelap dan terang di malam hari warga membuat penerangan dari lampu kaleng,dan mengantungkan bohlam lampu senter.

Masyarakat mengatakan janji-janji yang di berikan untuk memerangi desanya, hingga saat ini belum terwujud, wacana listrik masuk desa yang di dengung-dengungkan hanya enak di dengar saja.

Sedangkan bagi anak-anak dengan belum adanya cahaya listrik yang masuk rumah, harus belajar hanya dengan penerangan lampu yang terbuat dari kaleng, yang terkadang harus tersenggol dan menyilaukan mata, tapi bagi anak-anak hanya inilah yang bisa di lakukan.

Salah satu warga Roy mengatakan kalau tiang listrik yang terpasang di desanya, sudah berkali-kali di pindah, tapi tetap tidak dapat di fungsikan, dan hanya sebagai penghias desa.

Menurut Roy alirasn listrik belum bisa masuk, karena desanya kurang layak, dan juga karena dayanya yang kurang mampu, ini alasan yang di kemukakan bertahun-tahun, sekarang kami hanya bisa pasrah dan mengeluh.

“Masa sampai sekarang kami tidak bisa menikmati aliran listrik.” Ungkapnya sedih.

print