TN Sembilang, Wisata Alam Liar Bagi yang Bernyali

0
162

beritasebelas.com

****

oleh Haqulana

Beritasebelas.com, Banyuasin – Taman Nasional Sembilang (TNS) bisa dijadikan Referensi alternatif bila ingin menikmati wisata alam liar yang sangat eksotis. Menempati kawasan hutan basah seluas 202.896,31 hektar, kita bisa menyaksikan sejumlah hewan langka, langsung di habitatnya.

Foto, dokumen Humas Banyuasin
[Foto dokumen Humas Banyuasin]
Diantaranya kawanan harimau Sumatera, atraksi buaya muara, lumba-lumba air tawar, ribuan kunang-kunang dan ribuan burung migran dari berbagai negara yang setiap Oktober-Desember mencari makan di hutan mangrove ini.

Namun, wisata ini hanya disarankan bagi mereka yang bernyali besar, karena minimnya fasilitas, pelancong dituntut untuk menyatu dengan alam dan kehidupan di dalamnya.

Jangan harap menemukan hotel berbintang atau restoran mewah, di sini hanya ada pemukiman warga yang semuanya rumah panggung di atas air. Suasana alami sangat kental terasa.

Untuk mencapai Taman Nasional Sembilang, yang terletak di Kecamatan Sungsang, Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, hanya bisa ditempuh dengan transportasi air.

Teman-teman bisa naik speedboat dari Sungai Musi di bawah Jembatan Ampera Palembang, dengan tarif Rp 200 ribu ke Desa Sembilang. Atau mencarter spedboat Rp 500 ribu seharian, untuk 8 penumpang.

Tapi sebelumnya mesti membuat Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) di Kantor BKSDa Sumatera Selatan, dengan biayanya hanya Rp 20 ribu.

Menyusuri hutan mangrove menggunakan speedboat, aura alam liar sangat teras. Pengunjung akan disambut  kawanan buaya liar yang berjemur berjejer di pinggiran sungai.

Kawanan lumba-lumba air tawar terkadang juga muncul mengikuti laju speedboat.

Ular cicin emas, khas daerah ini kerap terlihat berjuntai di pohon sekitar pinggiran sungai yang di lalui, bersama monyet ekor panjang.

Sekitar 2 jam perjalanan dari Palembang, kita akan tiba di Dusun IV Desa Sembilang, di sana akan dipandu oleh petugas seksi II TNS yang berkantor di sana.

Bila ingin bermalam, pengunjung bisa bisa menginap di Kantor TNS atau di rumah-rumah warga yang menyediakan Home stay.

Untuk menyaksikan ribuan atraksi burung migran di Sungai Nibung, hanya sekitar 15 menit perjalanan spedboat dari Kantor TNS.

Teman-teman akan diturunkan sekitar 250 meter dari lokasi burung migran, kemudian berjalan kaki mengendap-ngendap melawati lumpur. Hal ini dilakukan agar kawanan burung tidak bergegas pergi.

Kita juga disarankan tidak menggunakan pakaian yang mencolok dan berusaha berkamuflase, dengan dedaunan mangrove. “Burung migran ini sangat sensitif melihat pergerakan benda asing dan berwarna mencolok,” kata Kepala Balai TN Sembilang Ir Syahimin.

Sangat dianjurkan menggunakan lensa tele bila ingin mendapatkan hasil foto maksimal ribuan burung migran. Namun, bila mau menunggu dan sedikit bersabar, teman-teman bisa mengabadikan foto close up burung migran, hanya dengan menggunakan kamera ponsel.

Caranya, duduk berdiam diri di tempat ribuan burung migran mencari makan. Bila tidak banyak beraktifitas, sekitar 15-30 menit, kawanan burung yang sebelumnya terbang menjauh akan kembali mendekat dan menghiraukan keberadaan teman-teman, untuk mencari makan. “Ada sekitar 28 spesies burung migran yang terdapat di sana. Diantaranya Burung Cerek, Gegajahan, Burung Biru, Camar dan sejumlah spesies lain,” kata Syahimin.

Pada malam hari, TNS menyuguhkan panorama indah, dengan atraksi ribuan kunang-kunang, membuat pohon mangrove berkelap-kelip seperti pohon natal.

Selain menikmati keindahan alam liar di TNS, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner khas daerah perkampungan nelayan tangkap di Sembilang. Mulai dari Udang Petak yang dimasak asam manis, Kepiting muara dan masakan sea food yang segar.

Pengunjung juga bisa membawa pulang, beragam jenis udang, kepiting, sotong dan olahan hasil laut segar yang dijual nelayan setempat sebagai oleh-oleh. Tentunya dengan harga yang super murah dibandingkan membeli di pasar.

print