Wisata Gua OKU, Menyusuri Zaman Preneolotik Hingga Sipahit Lidah

0
108

[Terlihat keindahan Goa Putri – foto : Bagus/beritasebelas.com]

Bagus

KESAN mistik, pengap dan gelap, tigal hal yang selalu melintas dalam pikiran masyarakat ketika mendengar kata gua. Karena memang, informasi maupun tayangan diberbagai media massa (cetak maupun elektronik dan juga online) menggambarkan gua sebagai tempat keramat atau hunian para jawara atau makhluk halus (metafisik) untuk meningkatkan kedikdayaan agar sakti mandra guna.

Kemudian, terbentuknya gua juga suka dikaitkan dengan sebuah legenda di suatu daerah. Tetapi di luar itu semua, gua merupakan proses alami yang membentuk sebuah lubang besar pada tanah atau bebatuan, bisa berbentuk suatu lorong yang panjang, gelap dan berkelok-kelok, tetapi dapat pula sebagai suatu ceruk dalam.

Gua sekarang juga menjadi lokasi objek wisata yang banyak direkomendasikan, dengan berbagai ornamen stalaktit dan stalagmit (terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes) bak pahatan sang pengukir profesional. Sebagaimana objek wisata Gua Putri, salah satu objek wisata di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semindang Aji.

Kawasan yang berjarak 42 kilometer atau bisa ditempuh selama kurang lebih 30 menit dengan kendaraan bermotor, dari pusat Kota Baturaja. Atau jika dari Kota Palembang, berjarak 230 kilometer atau 6 jam perjalanan. Bagi masyarakat setempat, Gua Putri merupakan objek destinasi wisata. Gua Putri mampu menciptakan keindahan dan nilai sejarah yang tidak boleh untuk dilewati. Gua ini memiliki kedalaman yang diperkirakan mencapai sekitar 150 meter, ketinggian sekitar 20 meter dan lebar 20-30 meter. Di Goa ini juga mengalir Sungai Sumuhun, yang konon ceritanya apabila kita mandi atau mencuci muka di aliran sungai ini mengandung khasiat awet muda.

Menurut legenda, sebelum nama Gua Putri melekat, hiduplah seorang putri yang bernama Dayang Merindu, yang menjadi selir dari Prabu Amir Rasyid, Penguasa Kerajaan Ogan. Suatu pagi, sang Putri mandi di Muara Sungai Sumuhun, pada saat mandi, lewatlah seorang pengembara bernama Serunting Sakti (sipahit lidah), ingin sekali menyapa putri yang berparas cantik itu. Tapi kehadirannya tidak diperhatikan Putri Dayang Merindu. Serunting Sakti gusar, dia pun berujar, “Sombong nian (sekali) putri ini, diam seperti batu” belum kering ludahnya, Putri Dayang Merindu sudah berubah menjadi batu.

Jika wisatawan ingin melihat sang putri yang berubah menjadi batu, sebelum masuk ke dalam gerbang objek wisata Gua Putri, persisnya saat menyeberangi sungai ogan, dari jembatan pengunjung bisa melihat sang putri dari arah sebelah kiri di pinggir aliran sungai ogan, ada sebuah batu yang memang jika dilihat bentuknya sangat menarik.

Kemudian, Serunting Sakti pergi ke desa tempat tinggal Putri Dayang Merindu dan keluarganya. Dilihatnya sepi, Serunting Sakti kembali berujar, “Sepi desa ini seperti gua sepi” kemudian desa tersebutpun menjadi goa batu yang saat ini dikenal dengan sebutan Gua Putri.

Bagi warga setempat, memiliki kebiasaan jika masuk gua memukul batu gong tepat di mulut gua sebanyak tiga kali. Karena masyarakat mempercayai, jika gua tersebut, adalah satu desa yang disumpah oleh Seruntung Sakti. Disebut batu gong sendiri, karena begitu dipukul walau menggunakan tangan, akan mengeluarkan suara.

Kendati menyimpan cerita mistik, tetapi begitu masuk di dalam gua, semua itu hilang. Bahkan, kawasan dalam gua bagus untuk mengambil dokumentasi pribadi (poto/video). Pemerintah daerah, telah mendesign sedemikian rupa sehingga wisatawan yang berkunjung dapat berlama-lama. Cahaya lampu warna yang terpasang dipantulkan stalaktit dan stalagmit sehingga menjadikan indah. Kesan gelap di dalam gua pun sirna.

Apabila diperhatikan, bentuk dari beberapa batu yang berada di Gua Putri ini bukan seperti batu biasa. Ada yang berbentuk manusia berbaring, harimau, singgasana raja bahkan panggung. Seorang guide akan menjelaskan dan memberitahu sejarah yang ada di seluruh Gua Putri ini. Para pengunjung juga bebas mengabadikan moment selama berada di Gua Putri ini. Keunikan dari gua ini adalah, wisatawan tidak akan masuk dan keluar pada jalan yang sama.

Gua Harimau

Selain Gua Putri, di Desa Padang Bindu, juga terdapat lokasi wisata prasejarah Gua Harimau. Di gua tersebut, arkeolog menemukan sisa hunian, perbekelan, dan kuburan dari ras Mongoloid, penghuni gua dengan budaya Neolitik sekitar 4.000 tahun lalu yang berlanjut ke budaya Paleometalik. Hingga saat ini telah ditemukan kubur dari hampir 100 individu dengan orientasi, posisi, sistem, dan jenis kubur yang sangat bervariasi.

Kepadatan kubur yang tiada duanya di Indonesia ini sangat penting bagi pemahaman tentang kehidupan leluhur bangsa di masa lampau. Khususnya tentang kondisi sosial dan ekonomi, konsepsi kepercayaan, demografi, patologi, nutrisi yang sarat dengan nilai-nilai budaya atau peradaban. Arkeolog bahkan menemukan sisa hunian Preneolitik yang jauh lebih tua milik ras Australomelanesid di bawah hunian Neolitik.

Tradisi gambar cadas merupakan peradaban manusia prasejarah dalam menyampaikan pesan melalui gambar. Di dunia, sangat jarang peneliti gambar cadas yang mempunyai pengalaman menemukan situs-situs baru. Namun, Indonesia memiliki cerita lain. Sebagian situs-situs gambar cadas justru bermunculan sekitar dua dekade belakangan.

Di langit-langit gua bagian timur dan barat, ditemukan lukisan cadas (rock art). Sejauh ini, lukisan cadas itu merupakan satu-satunya di Sumatera. Penemuan tersebut menambah peran penting Gua Harimau dalam menjelaskan perkembangan seni cadas regional yang mengandung nilai estetika dan simbolisme. Keberadaan lukisan ini sekaligus merefleksikan kemajuan alam pikir komunitas penghuni gua di kala itu.

Temuan gambar cadas prasejarah pertama di Sumatra ini mematahkan asumsi arkeolog yang menyatakan budaya gambar cadas tak menyentuh Sumatra, namun tersebar di Indonesia Timur dan wilayah lainnya.

Arkeolog bahkan menemukan sisa hunian Preneolitik yang jauh lebih tua milik ras Australomelanesid di bawah hunian Neolitik. Penemuan ini memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan awal Holosen dengan pengayaan budaya manusia sebelumnya di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Kehidupan berburu dan meramu telah lebih maju dari kehidupan sebelumnya dengan memanfaatkan sumber daya lingkungan yang tersedia, seperti hewan jenis rusa, babi, dan kera, selain itu reptil, burung, ikan, dan kerang-kerangan, termasuk umbi-umbian dan biji-bijian.

Sisa hunian yang lebih tua berasal dari 22.000 tahun lalu ditemukan pada kedalaman 2,7 meter. Ekskavasi yang dilakukan oleh para arkeolog telah mencapai lapisan hunian sedalam 5 meter diyakini dapat merefleksikan hunian gua yang jauh lebih tua dari sebelumnya, meski belum dilakukan penanggalan. Penemuan ini menjadi sangat penting karena mengisi kekosongan data hunian Sumatera hingga saat ini.

print