Yang Susah Pengelola, Eh yang Dapat Penghargaan Malah Dispar, Padahal !

0
24
[Objek wisata Pelancu yang mendapat penghargaan wisata kreatif terpopuler sepanjang Indonesia dari Kementerian Pariwisata RI]

A Yudiansyah

beritasebelas.com,Lahat – Juara 1 penghargaan wisata kreatif terpopuler se-Indonesia dari Kementerian Pariwisata RI yang diraih oleh wisata Pelancu Desa Ulak Pandan, Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat menuai polemik. Pasalnya, pihak pengelola wisata Pelancu kecewa atas sikap Dinas Pariwisata Kabupaten Lahat yang sejak awal lomba sama sekali tidak memberikan sumbangsih apapun terhadap kemajuan wisata Pelancu yang kini menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Lahat.

Bahkan, sejak digagas pada 18 Agustus 2017 lalu, dan mulai dibuka untuk umum 1 september 2017 hingga diresmikan pada 10 oktober 2017, belum ada kontribusi maksimal yang diberikan Pemerintah Kabupaten Lahat melalui Dinas Pariwisata.

“Tidak ada koordinasi sama sekali dari Dinas terkait perihal penghargaan yang diraih oleh Pelancu. Tetapi, terlepas dari itu semua, kami tetap bangga dan mengapresiasi atas kinerja Pemerintah Desa, Karang Taruna, dan seluruh warga desa Ulak Pandan yang telah mengharumkan nama Kabupaten Lahat,” ujar Ketua BUMDes Ulak Pandan Evan, Selasa 27 November 2018.

Dikatakan Evan, pihak pengelola sangat terkejut saat mengetahui jika Bupati Lahat Marwan Mansyur sudah mengambil penghargaan di Jakarta, melalui media sosial. “Sebagai bentuk penghargaan, apa susahnya untuk berkoordinasi dengan kami selaku pengelola sebelum mengambil penghargaan tersebut. Kami bukannya ingin ikut atau dapat hadiah itu, tapi cuma perlu koordinasi. Malahan kepala Dinas Pariwisata Sumsel yang sudah mengundang pengelola ke Palembang untuk diberikan apresiasi dan penghargaan,” ujarnya.

Meraih penghargaan terpopuler, tentu banyak tantangan kedepan yang lebih berat bagi pengelola untuk lebih memajukan, membangun, dan menginovasi wisata Pelancu. Apalagi, fasilitas yang ada di Pelancu belum semuanya lengkap. Sarana dan prasarana masih menjadi sorotan untuk segera ditingkatkan.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Mario Andramartix, pelopor Pariwisata di Kabupaten Lahat. Mario sangat menyayangkan sikap Dinas Pariwisata yang kurang berkoordinasi dengan pengelola Pelancu, sehingga mereka merasa diabaikan.

“Potensi pariwisata Lahat adalah yang terbesar di Sumsel, maka dari itu, kami terus mendorong melalui stakeholder yang sesuai tupoksi nya untuk memajukan pariwisata Lahat dengan cara berkoordinasi dan menjalin komunikasi yang baik dengan pihak pengelola,” tegas pria yang merupakan tokoh penggerak kebudayaan dan kepariwisataan Sumsel tahun 2017 ini.

Mario menilai, Pariwisata di lahat selama ini hanya jalan ditempat, karena tidak di dukung person yang memang memahami tentang pariwisata. Terlebih, belum adanya Rippda (rencana induk pengembangan pariwisata daerah), serta kurangnya komitmen pemerintah daerah untuk benar-benar membangun sektor pariwisata.

“Belum adanya pembinaan-pembinaan yang dilakukan oleh Dinas terkait juga menjadi salah satu faktor yang membuat Pariwisata Lahat jalan ditempat.

Padahal, Sektor Pariwisata merupakan motor penggerak sektor lain. Dengan majunya Pariwisata, maka akan berdampak juga ke sektor perekonomian dan sektor lainnya,” ujarnya.

Terpisah, Kabid Objek Wisata Dinas Pariwisata Lahat,  Syaidina Amin mengaku belum bisa menjawab apa yang menjadi kekecewaan pengelola Pelancu. Amin menuturkan akan ada klarifikasi dari Kepala dinas setelah pulang dari Jakarta. “Ya kita sudah dapat informasi kekecewaan kawan kawan Pelancu. Tapi maaf saya belum bisa jawab. Nanti tunggu dari kepala dinas, “tuturnya.

print