Polri Ungkap Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi di Pati Jateng, Kabareskrim : Kasus Terbesar Sepanjang 2022

  • Bagikan
X

 

BERITASEBELAS.COM - Tim Direktorat Tindak Pifana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri mengungkap kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak jenis solar bersubsidi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan, dalam kasus tersebut pihaknya menetapkan sebanyak 12 orang tersangka.

"Kasus yang digelar ini terungkap pada 18 Mei 2022 lalu dan merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2022.

Petugas berhasil mengamankan sejumlah pelaku di beberapa wilayah Kabupaten Pati," kata Agus dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Selasa, 24 Mei 2022.

Baca Juga: Jadi Fitur Unggulan dan Pertama di Kelasnya, Simak Keunggulan Honda Sensing di All New HR-V 

Agus menjelaskan, lokasi pertama pengungkapan kasus berada di sebuah gudang di jalan Pati-Gembong, Kelurahan Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Kemudian dilakukan pengembangan terungkap lokasi kedua yang berada di Gudang di Jalan Juwana-Pucakwangi, Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

"Petugas juga mengamankan rombongan mobil heli pengangkut BBM yang modifikasi yang ditangkap TKP ketiga di Jalan Juwana Puncakwangi Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan," tuturnya.

Baca Juga: Tak Mau Wabah Cacar Monyet Menyebar Makin Parah, Jerman Pesan 40.000 Dosis Vaksin bagi Rakyatnya

Menurutnya dari 12 tersangka semuanya memiliki peran masing-masing mulai dari pemilik modal sampai dengan pengangkut BBM jenis solar bersubsidi tersebut.

Adapun para tersangka yang diamankan masing-masing berinisial MK sebagai pemilik gudang.

Kemudian EAS sebagai pemodal, AS sopir mobil heli, MT sopir mobil, SW sopir mobil, FDA sopir mobil, FDA sopir mobil, AAP kepala gudang, MA sopir truk tangki kapasitas 24 ribu liter, TH sopir truk tangki kapasitas 24 ribu liter, JS pemodal, AEP sopir mobil, dan S sopir mobil.

Baca Juga: Samsung Investasi 450 Triliun Won Untuk Chip Semikonduktor, Buka 80 Ribu Lapangan Kerja 

"Modus para pelaku yakni dengan cara menampung BBM jenis solar bersubsidi di gudang tempat penyimpanan yang diperoleh dari sejumlah SPBU.

Mereka mengangkut solar menggunakan kendaraan yang sudah di modifikasi kemudian dikirim," ucapnya.

Dari sejumlah SPBU tersebut, para pelaku membeli solar subsidi seharga Rp.5.150 per liter.

Solar tersebut kemudian dijual ke pemilik gudang seharga Rp.

7.000 perliternya.

Oleh para pemilik gudang, BBM solar subsidi yang telah dibeli tersebut kemudian diangkut menggunakan mobil truk tangki kapasitas 24.000 liter dan 16.000 Liter dan dijual ke kapal-kapal nelayan senilai Rp.

10.000 hingga Rp.

11.000 per liter.

 Baca Juga: Mesut Ozil hadir di Jakarta usai Diundang Sandiaga Uno, Simak Kegiatannya

"Kami juga telah mengamankan Kapal Tanker bernama Permata Nusantara di Pelabuhan Tanjung Priok yang memuat 499 ribu liter solar diduga hasil dari proses penyalahgunaan BBM bersubsidi yang dilakukan para tersangka," kata Agus.

Adapun tindak pidana tersebut dilakukan para tersangka sejak tahun 2021 hingga sekarang.

Diperkirakan omzet yang diraup dari kejahatannya mencapai 4 milyar rupiah.

"Ini penindakan penyalahgunaan BBM subsidi merupakan upaya yang terus menerus kita lakukan guna melindungi masyarakat dari perbuatan oknum yang menyalahgunakan BBM bersubsidi," ujarnya.

Baca Juga: Pelat Nomor Putih Berlaku Juni 2022, Masyarakat Diminta Tidak Buru-Buru Beli Online 

Sementara Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengungkapkan, pihaknya terus menerus berkoordinasi dengan Pertamina untuk melakukan monitoring distribusi hingga penjualan BBM di pasaran.

"Lewat satgas Puser Bumi, Polda Jateng bekerjasama dengan Pertamina untuk memantau BBM di pasaran.

Masalah monitoring distribusi dan penyaluran BBM merupakan salah satu arahan penting Kapolri dan ini tentunya ini wujud pelaksanaan dari kebijakan Presiden," kata Luthfi.

Terpisah General Manager Pertamina Jateng
Dwi Puji Ariestya memberikan apresiasi dan akan berkoordinasi dengan Polri untuk mengamankan penyaluran BBM di wilayah Jateng.

Baca Juga: Produk Pasir, Batu, dan Bata Harus ada SNI, Jokowi: Logika Kita ini Kadang Nabrak-Nabrak 

"Bila ada kelangkaan di suatu tempat, pasti kita laporkan ke Polda.

Kemudian kita turun ke lapangan bersama untuk melihat penyebabnya.

Atas prestasi yang luar biasa ini saya mengucapkan apresiasi yang sebesar-besarnya," ujarnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas sebagaimana telah diubah dengan pasal 40 angka 9 UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dengan ancaman hukuman maksimal 6 (enam) tahun penjara dan denda paling tinggi 60 milyar rupiah.***

Artikel Asli

Sumber: pikiran-rakyat.com

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email beritasebelascom@gmail.com.
  • Bagikan