Jokowi Ulang Tahun, Kenapa Tak Pernah Dirayakan? Mengapa Lebih Memilih Blusukan?

  • Bagikan
X

BERITASEBELAS.COM, JAKARTA -  Presiden Jokowi genap berusia 61 tahun pada hari Selasa  (21/6/2021).

Jokowi lahir pada 21 Juni 1961 di Surakarta, Jawa Tengah.

Jokowi merupakan Presiden ketujuh RI yang mulai menjabat sejak Oktober 2014.

Saat ini, kepemimpinan Jokowi telah memasuki periode kedua dan akan berakhir pada 2024.

Tak Pernah Dirayakan

Jokowi ulang tahun tak pernah dirayakan.

“Saya tak pernah merayakan hari ulang tahun, dan tak perlu ada pesta, kecuali rasa syukur ke hadirat Allat SWT, dan negeri yang menanti kerja bersama kita,” tulis Presiden Jokowi melalui akun twitternya @jokowi yang diunggahnya pada 2019 lalu bertepatan dengan  ulang tahunnya ke-59 saat itu.

Baca juga: Survei Litbang Kompas: Kepuasan Publik terhadap Jokowi-Maruf Menurun, Bidang Ekonomi Jadi Sorotan

Blusukan di Hari Ulang Tahun

Jokowi seringkali melakukan blusukan (kunjungan kerja) bertepatan di hari ulang tahunnya.

Di tahun 2017, Jokowi blusukan ke Bogor dan Sukabumi saat ulang tahunnya ke-56.

Di tahun 2018 pada ulang tahunnya ke-57, Presiden Jokowi memilih meninjau proyek pembangunan Taxy Way dan Runway 3 di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Pada ulang tahunnya ke-58 tahun 2019, Jokowi blusukan ke proyek pengerjaan runway di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Namun pada tahun 2020 dan 2021 bertepatan dengan puncak pandemi Covid-19 Jokowi tidak melakukan blusukan.

Profil Jokowi

Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi adalah Presiden ke-7 RI.

Jokowi menjabat sebagai presiden sejak 20 Oktober 2014. Dia terpilih kembali sebagai kepala negara untuk periode kedua dan dilantik pada 20 Oktober 2019.

Jokowi meniti karier politiknya dari bawah, sejak ia menjabat sebagai kepala daerah.

Kini, namanya dikenal seantero Indonesia, bahkan di kalangan pemimpin dunia.

Masa kecil

Dikutip dari laman resmi Perpustakaan Nasional RI, Jokowi lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1961.

Sejak lahir, dia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan yang berlokasi di tepi sebuah sungai di Solo.

Hidup keluarga Jokowi sangat sederhana. Ayahnya menghidupi keluarga dengan berjualan kayu.

Ayah Jokowi bahkan terpaksa berulang kali membawa istri dan anak-anaknya hidup berpindah dari satu rumah sewa ke rumah sewa lainnya.

Pernah suatu waktu, keluarga Jokowi harus rela digusur pemerintah Kota Solo dari tempat tinggal mereka di bantaran Kali Pepe.

Jokowi dan keluarga pun tinggal menumpang di kediaman seorang kerabat ayahnya di daerah Gondang.

Meski hidup dengan kesederhanaan, Jokowi pernah mengatakan bahwa pengalaman masa kecil itu tidak dirasakannya sebagai sebuah penderitaan.

Pendidikan

Jokowi mengenyam pendidikan dasar sejak tahun 1973. Ia bersekolah di SD Negeri 112 Tirtoyoso Solo.

Sejak duduk di bangku SD, Jokowi sudah membantu keluarganya mencari nafkah dengan berdagang.

Uang yang ia hasilkan untuk keperluan sekolah hingga jajan sehari-hari.

Saat teman-temannya pergi ke sekolah dengan sepeda, Jokowi memilih untuk tetap berjalan kaki.

Jokowi lantas melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 1 Surakarta pada tahun 1976.

Lalu, pada tahun 1980, dia meneruskan pendidikan ke SMA Negeri 6 Surakarta.

Lepas dari bangku SMA, Jokowi melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ia meraih gelar S1 dari Fakultas Kehutanan UGM.

Bisnis mebel

Lulus dari bangku kuliah, Jokowi muda sempat bekerja di sebuah perusahaan BUMN di Aceh. Ia harus bekerja keras di tengah hutan.

Pekerjaan itu rupanya tak membuat Jokowi bertahan lama. Tahun 1988, Jokowi yang sudah memperistri Iriana kembali ke Solo.

Ia lantas bekerja di pabrik milik pamannya, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti dan memulai usaha mebelnya sendiri.

Usaha yang mulanya berjalan dengan kondisi sederhana lambat laun berkembang.

Dari yang awalnya skala regional, usaha Jokowi meluas sampai pasar nasional, hingga akhirnya merambah pasar mancanegara.

Kesuksesan bisnis mebel ini akhirnya menggerakkan Jokowi untuk mulai aktif dalam kegiatan sosial.

Ia dan beberapa rekan pengusaha menggagas terbentuknya organisasi pengusaha mebel nasional cabang Solo yang bernama Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia atau Asmindo.

Jokowi pun didaulat menjadi ketua organisasi tersebut.

Karier politik

Setelah 2 tahun Jokowi memimpin Asmindo, pengurus dan anggota perkumpulan pengusaha itu mulai melontarkan ide pencalonan Jokowi di Pilkada Solo 2005.

Awalide itu muncul, Jokowi hanya menganggapnya dengan tawa dan secara halus menolaknya. Namun, aspirasi tersebut terus menguat.

Politik akhirnya menarik minat Jokowi. Ia lantas bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada tahun 2004.

Memulai debutnya, Jokowi maju di Pilkada Solo 2005 berpasangan dengan sesama kader PDI-P, FX Hadi Rudyatmo.

Keduanya menang dan terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo periode 2005-2010.

Pada pemilihan Wali Kota Solo selanjutnya, Jokowi dan FX Hadi Rudyatmo kembali memenangkan kontestasi. Keduanya dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo periode 2010-2017.

Namun, baru 2 tahun menjabat, PDI-P memberi mandat ke Jokowi untuk maju di Pilkada DKI Jakarta tahun 2012.

Diusung oleh PDI-P dan Gerindra, Jokowi dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Jokowi dan Ahok berhadapan dengan lima pasangan calon lain ketika itu. Keduanya berhasil menduduki posisi teratas pada Pilkada DKI putaran pertama dengan persentase perolehan suara sebanyak 42,60 persen.

Pada putaran kedua, Jokowi dan Ahok berhasil mengungguli pasangan calon Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli.

Jokowi dan Ahok pun resmi terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Jadi presiden

Karier politik Jokowi terus menanjak. Namanya melejit karena dicitrakan dekat dengan rakyat.

Program "blusukan" yang melambungkan nama Jokowi sejak menjadi Wali Kota Solo ia bawa saat memimpin pemerintahan ibu kota negara.

Popularitas itu lantas memantapkan PDI-P untuk mengusung Jokowi di Pilpres 2014.

Saat itu, dia dipasangkan dengan Jusuf Kalla yang pada tahun 2004-2009 sudah lebih dulu menjadi wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Di Pilpres 2014, Jokowi dan Kalla harus melawan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Kontestasi itu dimenangkan Jokowi-Kalla yang memperoleh 70.997.859 suara atau 53,15 persen.

Sementara, Prabowo-Hatta Rajasa mengantongi 62.576.444 suara atau 46,85 persen.

Lima tahun menjabat sebagai presiden, Jokowi kembali bertarung di Pilpres 2019. Ia berpasangan dengan Ma'ruf Amin.

Lagi-lagi Jokowi harus berhadapan dengan Prabowo, yang kala itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Jokowi-Ma'ruf pun keluar sebagai pemenang dengan mengantongi 85.607.362 suara atau 55,50 persen.

Sedangkan Prabowo-Sandi harus puas dengan 68.650.239 suara atau 44,50 persen.

Sumber: BERITASEBELAS.COM/Kompas.com

 

Artikel Asli

Sumber: tribunnews.com

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email beritasebelascom@gmail.com.
  • Bagikan