Sidang Lanjutan Perkara Askrindo Rugikan Negara Rp 604,6 miliar

  • Bagikan

Pantau – Enam saksi dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi di PT asuransi Kredit Indonesia, Askrindo Mitra Utama (AMU) dengan terdakwa mantan direksi BUMN Anton Fajar Alogo Siregar, Wahyu Wisambada, dan Firman Berahima.

Kemudian saksi tersebut diantaranya adalah, Ir, Novian Prihantono, Afiat, dan I Gede Putra Widjaja. Mereka menerangkan ihwal penggunaan dana operasional di cabang PT Askrindo di beberapa cabang diantaranya di Surabaya, dan Bandung.

Menurut mereka uang operasional yang dipergunakan PT AMU cabang berasal dari komisi. Penggunaannya antaralain untuk gathering, entertainment, dan sponsor.

“ Ada uang komisi PT AMU utk kegiatan gathering. Entertainment dan sponsor, uang,” ujar Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana dalam keterangan tertulis, Senin, 20/6/2022).

Saksi mengakui tidak ada ketentuan yang mengatur soal penggunaan dana operasional yang berasal dari komisi tersebut.

Terkait kesaksian dipersidangan, penasehat hukum terdakwa, Jecky Alatas menyatakan, penggunaan dana operasional yang bersumber dari komisi adalah sah sah saja.

“Yang ingin kami klarifikasi sebenarnya bahwa ada dana, komisi, yang diberikan kepada Agen. Yang namanya komisi itu Artinya kan komisi itu menyelesaikan pekerjaan yang sudah selesai,” ujarnya Senin, (20/6/2022)

“Artinya komisi tersebut mau digunakan Dana operasional,  digunakan untuk dana kemitraan agen maupun perusahaan itukan sah-sah saja,” ujarnya.

Jaksa sebelumnya mendakwa kepada tiga direksi PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dalam perkara dugaan korupsi terkait pengeluaran Komisi Agen secara tidak sah pada 2019-2020.

Tiga direksi BUMN tersebut adalah Anton Fadjar Alogo Siregar (Direktur Operasional Ritel) PT Askrindo, dan Wahyu Wisambada (Direktur Pemasaran) PT Askrindo Mitra Utama (AMU) dan Firman Berahima ( Dir SDM), ketiganya diduga melakukan korupsi bersama sama dengan I Nyoman Sulendra (Dirut), Frederick Tassam (Dirut), Dwikora Harjo (Dirut), dalam kurun waktu 2019-2020.

Dalam uraian jaksa, akibat perbuatannya telah memperkaya Anton Fadjar senilai USD 616.000 dan Rp.821 juta, memperkaya Firman Berahima USD 385.000, dan merugikan negara Rp 604,6 miliar.

Jaksa mendakwa Anton dan Wahyu dan Firman dengan dakwaan subsidairitas ,Yakni;

Primair: Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Subsidair: Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

[Laporan: Syrudatin]

Artikel Asli

Sumber: pantau.com

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email beritasebelascom@gmail.com.
  • Bagikan