Nyeri pada Perineum Setelah Melahirkan? Ini Cara Menguranginya

  • Bagikan
X

Melahirkan memang sebuah perjuangan hidup dan mati seorang ibu dan bayi. Rasa sakit bercampur bahagia pun sering dirasakan setiap ibu yang melahirkan. Salah satunya nyeri pada perineum yang kerap dialami beberapa ibu setelah melahirkan.

Melansir laman WebMD, peneliti asal Kanada menemukan 92% ibu mengeluhkan rasa sakit yang signifikan di daerah antara vulva dan anus. Rasa sakit ini dikenal sebagai nyeri perineum. Nyeri tersebut umumnya terjadi pada beberapa hari setelah melahirkan pervaginam alias persalinan normal. 

Artikel Terkait: Cara Menghindari Episiotomi, Sayatan Antara Vagina dan Anus Saat Melahirkan

Apa itu Nyeri Perineum?

Nyeri perineum adalah salah satu jenis nyeri pascapersalinan yang paling umum. Persalinan pervaginam memberikan tekanan besar pada kulit, otot antara vagina, serta anus yang harus meregang untuk mengakomodasi kepala bayi. Di bawah tekanan kuat dari kepala bayi yang mendorong ke arah lubang vagina selama persalinan, perineum bisa membengkak dan terkadang bahkan robek.

Jika melahirkan pervaginam tanpa robek, perineum mungkin bengkak atau nyeri setelahnya. Nyeri perineum kemungkinan akan terasa baik-baik saja dalam waktu seminggu, atau bahkan hanya satu atau dua hari.

Dalam keadaan tertentu, perineum mungkin robek saat melahirkan, atau tenaga kesehatan mungkin memutuskan untuk melakukan prosedur pembedahan (episiotomi) untuk membuat lubang yang lebih lebar agar kepala bayi dapat melewatinya. Luka ini mungkin sangat menyakitkan saat sembuh.

Penyebab Nyeri pada Perineum

Pengalaman setiap ibu berbeda-beda, tetapi penyebab nyeri perineum pascapersalinan dan berapa lama biasanya tergantung pada cara melahirkan. Dikutip dari situs What to Expect, penyebab nyeri pada perineum dapat terjadi pada persalinan pervaginam tanpa robekan. Pada persalinan normal, seluruh area perineum dan rektum mungkin bengkak setelah melahirkan, dan ibu mungkin akan merasa tidak nyaman di area tersebut selama beberapa minggu.

Nyeri pada perineum juga dapat terjadi akibat robekan vagina atau episiotomi. Luka akan segera mulai sembuh, tetapi sering kali membutuhkan waktu beberapa minggu hingga penyembuhan selesai dan rasa sakit hilang.

Pada ibu yang melahirkan lewat operasi caesar, nyeri pada perineum juga bisa terjadi setelah persalinan. Ketidaknyamanan mungkin bergantung pada berapa lama ibu mengejan sebelum menjalani operasi caesar dan apakah kepala bayi hampir mencapai puncaknya.

Sementara berdasarkan laman WebMD, pada beberapa kondisi, nyeri pada perineum disebabkan oleh tingkat keparahan robekan perineum, yaitu:

Derajat 1: Jenis robekan perineum ini hanya melibatkan kulit dan jaringan langsung di bawah kulit perineum, yaitu area antara vagina dan rektum. Jika mengalami robekan tingkat pertama, ibu mungkin mengalami sedikit rasa sakit atau perih saat buang air kecil. Robekan ini mungkin tidak memerlukan jahitan, meskipun beberapa membutuhkannya. Mereka umumnya sembuh dalam beberapa minggu. Derajat 2: Jenis robekan perineum ini adalah jenis yang paling umum terjadi saat melahirkan dan lebih dalam dari robekan tingkat pertama. Ini melibatkan kulit dan otot perineum dan dapat meluas jauh ke dalam vagina. Robekan tingkat dua biasanya membutuhkan jahitan dan biasanya akan sembuh dalam beberapa minggu. Derajat 3: Jenis robekan perineum ini meluas ke otot di sekitar anus. Ibu mungkin memerlukan anestesi dan memperbaikinya di ruang operasi. Robekan tingkat tiga mungkin membutuhkan waktu lebih dari beberapa minggu untuk sembuh. Selain itu, ibu mungkin mengalami komplikasi seperti sakit saat BAB akibat sobekan rektum dan hubungan seksual yang menyakitkan.  Derajat 4: Jenis robekan perineum ini adalah yang paling parah. Ini meluas melalui otot-otot di sekitar anus dan ke dalam selaput lendir yang melapisi rektum. Robekan tingkat empat biasanya perlu diperbaiki di ruang operasi dengan anestesi. Ibu mungkin juga memerlukan jenis perbaikan yang lebih khusus. Penyembuhan mungkin memakan waktu lebih lama dari beberapa minggu. Seperti halnya robekan tingkat tiga, ibu mungkin mengalami komplikasi seperti sakit saat BAB akibat sobekan rektum dan hubungan seksual yang menyakitkan.

Artikel Terkait: 4 Tahap robekan jalan lahir setelah persalinan normal, seperti apa bentuknya?

Berapa Lama Nyeri pada Perineum?

Studi yang terbit dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology edisi November 2004, para peneliti melacak nyeri pascapersalinan pada 445 ibu yang melahirkan bayi melalui vagina di sebuah rumah sakit di Toronto, Kanada.

Studi tersebut menunjukkan nyeri pada perineum lebih sering terjadi pada ibu yang melahirkan anak pertama, mereka yang menjalani episiotomi selama persalinan pervaginam, dan mereka yang menjalani epidural untuk menghilangkan rasa sakit selama dua persalinan.

Para peneliti mengatakan bahwa pada hari pertama (hari melahirkan), ibu yang melaporkan trauma pada perineum 30% lebih mungkin untuk melaporkan nyeri perineum dibandingkan dengan ibu tanpa trauma.

Penelitian asal Kanada tersebut menunjukkan, persentase nyeri pada perineum masing-masing turun menjadi 61% pada tujuh hari dan 7% pada enam minggu setelah melahirkan. Sekitar 75% ibu dengan perineum utuh melaporkan, mereka mengalami nyeri satu hari setelah melahirkan, dan 38% seminggu kemudian.

Sementara, sekitar 95% ibu dengan robekan perineum derajat 1 atau 2 melaporkan, nyeri satu hari setelah melahirkan, dan 60% satu minggu kemudian. Ada juga 97% ibu yang menjalani episiotomi melaporkan nyeri perineum 1 hari setelah melahirkan, bahkan 71% satu minggu kemudian.

Lalu, 100% ibu yang mengalami robekan derajat 3 atau 4 melaporkan, nyeri 1 hari setelah persalinan pervaginam, dan 91% seminggu kemudian.

Umumnya, beberapa ibu akan mengalami nyeri pada perineum hanya sebatas sakit di organ intim. Namun, ada juga ibu yang mengalami sakit yang semakin parah, rasa terbakar atau kemerahan, pembengkakan di lokasi robekan atau sayatan, demam, keluar nanah, hingga bau tak sedap. Jika salah satu dari gejala berikut muncul, hubungi dokter segera.

Cara Mengurangi Rasa Sakit pada Perineum

Anda pasti akan merasa kelelahan yang kesakitan usai melahirkan. Meski demikian, itu bukan penyebab untuk tidak aktif bergerak. Pasalnya, cara ini juga dapat mengurangi rasa sakit pada perineum. Cara lainnya adalah:

Jaga agar tetap bersih. Siram air hangat ke area organ kewanitaan setelah buang air kecil. Hal ini dilakukan agar urine tidak mengiritasi kulit. Tetap tenang. Lakukan relaksasi dengan selalu mengatur nafas tiap rasa sakit di area tersebut datang. Tetap teratur. Sebagian masalah yang sering dialami ibu pascapersalinan adalah masalah buang air besar yang sulit. Tak sedikit Bunda yang mengaku takut akan rasa sakit saat BAB. Untuk itu, minumlah banyak cairan. Bisa juga mencoba makan lebih banyak serat untuk membantu menggerakkan segala sesuatunya dengan lebih lancar. Atau tanyakan kepada tenaga kesehatan tentang pelunak feses atau pencahar ringan untuk mengatasi sembelit. Kompres dengan es. Oleskan es ke area tersebut selama 10 hingga 20 menit setiap beberapa jam setelah melahirkan untuk meminimalkan rasa sakit dan pembengkakan. Mengoleskan es di area tersebut juga dapat meredakan nyeri selama beberapa hari pertama pascapersalinan. Selain itu, gunakan sarung tangan bedah yang diisi dengan es yang dihancurkan bisa jadi alternatif untuk mengompres area perineum. Berendam air hangat. Mandi air hangat atau berendam menggunakan baskom berisi air hangat sekitar 20 menit dapat meredakan nyeri pada perineum. Cara ini dapat menenangkan kulit dan meningkatkan sirkulasi ke area tersebut. Jika cara ini kurang nyaman, atau jika tidak memiliki baskom, Anda dapat merendam pantat di bak mandi. Pastikan untuk menjaga agar air tetap dangkal (kedalamannya tidak lebih dari 3 inci).  Oleskan kompres hangat. Kain lap atau handuk bersih yang dibasahi dengan air hangat memiliki fungsi yang sama dengan berendam. Pegang perineum Anda untuk mengurangi ketidaknyamanan. Gunakan bantalan. Beli bantal donat (dengan lubang di tengahnya) untuk mengurangi tekanan pada bagian yang sakit saat duduk. Gunakan pakaian longgar. Menggunakan pakaian longgar dapat mengurangi nyeri pada perineum. Lebih baik gunakan rok untuk memberikan angin atau ruang ke bagian organ intim. Selain itu, penting untuk mengganti pembalut setiap 2-3 jam sekali. Gunakan obat pereda nyeri (analgesik). Sebagian dokter akan meresepkan obat pereda nyeri yang bisa diminum setelah melahirkan, pastikan obat ini aman untuk ibu menyusui. Ada juga analgesik berupa krim atau semprotan yang dapat digunakan pada bagian perineum.

Itulah informasi lengkap mengenai nyeri pada perineum. Jika rasa sakit disertai dengan tanda-tanda infeksi atau gejala pascapersalinan lainnya, segera cari pertolongan medis. 

***

Incidence, severity, and determinants of perineal pain after vaginal delivery: a prospective cohort study

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15507941/

What to Know About Degrees of Perineal Tears

https://www.webmd.com/baby/what-to-know-degrees-of-perineal-tears

Postpartum Perineum Pain

https://www.whattoexpect.com/first-year/postpartum-perineal-pain/#:~:text=Perineum pain is one of,perineum, is designed to stretch.

Pain After Childbirth Common, Often Untreated

https://www.webmd.com/parenting/baby/news/20041103/pain-after-childbirth-common-often-untreated 

Artikel Asli

Sumber: theasianparent.com

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email beritasebelascom@gmail.com.
  • Bagikan