Kesederhanaan yang Jahat

  • Bagikan
X

Smith Alhadar, Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe)

Di suatu negeri yang rakyatnya selalu ditipu, muncul pemimpin berpenampilan sederhana. Namanya Coro. Kemejanya selalu putih lengan panjang yang digulung, yang mengesankan seorang guru arif bijaksana. Wajah dan pikirannya betul-betul menyerupai rakyat.

Ia pun berjanji akan membabat korupsi hingga ke akar-akarnya dan menyejahterakan seluruh rakyat. Maka rakyat dari mana-mana bergegas menyatakan sumpah setia kepadanya. Juga para intelektual dan akademisi. “Baru kali ini langit mengutus kepada kita pemimpin dari kalangan kita sendiri, yang akan membebaskan kita dari penindasan yang kita warisi dari nenek moyang sejak dulu kala,” kata mereka optimis, “inilah saatnya kita bangkit”.

Coro kemudian berkeliling hingga daerah terjauh, menggendong anak-anak desa yang dekil, masuk ke dalam gorong-gorong, dan menolak berkumpul dengan elite dunia karena bicara dengan mereka membuat ia ngantuk. Sering juga ia membagi-bagi sembako dan sejumlah kartu sakti kepada rakyat yang belum pernah senang seumur hidup mereka.

“Jangan-jangan dia nabi baru,” mereka menduga-duga. Toh, umumnya Nabi diutus dari kalangan rakyat. Dugaan itu berubah menjadi keyakinan ketika Coro membangun banyak jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara. “Bukan main!” Coro pun sering berpura-pura terkejut manakala para pembantunya mengeluarkan kebijakan yang mengecewakan rakyat. Keterkejutan Coro penting untuk mengesankan dia tak mendukung kebijakan itu. Dia tetap dari rakyat untuk rakyat. Ketika ada yang mempertanyakan perangai dan kebijakannya, segera saja buzzerRp mem-bully-nya.

Bagaimanapun, tak semua orang terhipnotis oleh kesederhanaannya, yang membuat Coro terganggu. Para cerdik pandai yang masih waras tak percaya pada keseluruhan dirinya. Setelah mengamati perangai, kebijakan, dan motif-motifnya, mereka berkata, “Awas, kita sedang berhadapan dengan bunglon. Dia bukan orang sederhana dalam ambisi. Tak lain dan tak bukan dia seorang yang bebal, penuh tipu muslihat, ambisius, ngawur. Dan jahat.”

Artikel Asli

Sumber: suaranasional.com

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].
  • Bagikan