Akhirnya Terungkap! Ini Alasan Keluarga di Pemalang Simpan Jenazah Anaknya di Rumah hingga Berbulan-bulan

  • Bagikan

BERITASEBELAS.COM – Pasangan suami istri (pasutri) – Rahmad (38) dan Prihati (36) – belum lama ini menjadi sorotan warga Desa Plakaran, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Pasalnya, mereka menyimpan jenazah anaknya yang berinisial SAR (14), selama 2,5 bulan.

Pasutri itu menyakini bahwa anaknya belum meninggal dunia dan diduga mengikuti aliran tertentu.

“Diduga kedua orangtua dari SAR ini mengikuti aliran tertentu yang menyebutkan bahwa anaknya belum meninggal dunia,” kata Camat Moga, Umroni, yang dilansir dari Tribun Medan pada Jumat (14/1/2022).

Baca Juga: ‘Itu Hal yang Menarik dalam Hidup Aku’, Luna Maya Mah Lewat, Inilah Sosok Wanita yang Jadi Cinta Pertama Ariel NOAH Saat SMA

Tetangga bahkan mengatakan, keduanya sering sekali mengantikan baju jenazah anaknya.

Melihat tingkah yang tidak lazim itu, warga pun melaporkan ke kantor desa.

Selanjutnya, forkopimcam, tim medis bersama kades desa setempat langsung menuju ke lokasi kejadian.

“Kami langsung melakukan langkah-langkah terkait itu, di antaranya memberikan penyadaran kedua orangtua untuk segera melakukan perlakuan terhadap jenazah seperti memandikan, di salati, dan dikuburkan secara syariat Islam,” imbuhnya.

Pihaknya berharap kasus ini agar tidak terjadi lagi dan mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai adanya keyakinan-keyakinan oleh oknum-oknum yang menyebarkan bahwa jenazah itu masih hidup, padahal jenazah tersebut sudah meninggal dunia.

Baca Juga: ‘Satu Tahunan’, Warganet Auto Heboh! Rupanya Tak Cuma Sudah Menikah, Sosok ini Bongkar Ardhito Pramono Ternyata Sudah Memiliki Anak dari Jeanneta Sanfadelia!

“Saya meminta kepada bapak RT, RW, dan pak kadus di wilayah desa-desa untuk sering mamatau kondisi di lapangan.”

“Karena kejadian ini sampai tidak diketahui oleh masyarakat, karena keluarga tersebut jarang keluar rumah dan jarang sosialisasi ke masyarakat,” tambahnya.

Bid Dokes Polda Jateng mendatangi ke Desa Plakaran, Kecamatan Moga untuk melakukan trauma healing kepada keluarga SAR, Rabu (12/1/2022).

Kapolres Pemalang AKBP Ari Wibowo mengatakan, upaya trauma healing ini dilakukan untuk memberikan perhatian kepada keluarga SAR dalam membantu proses penyembuhan trauma akibat kehilangan orang yang dicintai.

“Harapannya, trauma healing ini dapat membantu keluarga SAR untuk kembali hidup normal setelah kejadian yang membuatnya trauma,” kata Kapolres Pemalang AKBP Ari Wibowo yang dikutip dari Tribun Jateng.

Kapolres Pemalang mengungkapkan, trauma healing dilakukan oleh tim dari Bid Dokes Polda Jateng bersama Dokes Polres Pemalang, dan Puskesmas Banyumudal, Moga.

“Tim Bid Dokes Polda Jateng dipimpin oleh Dr. Endang, mereka didampingi oleh Forkopimcam Moga dan pemerintah desa setempat,” ungkapnya.

Baca Juga: ‘Aku Masih TK, Dia Udah jadi Polisi’ Bak Jodoh Gak Ada yang Tahu, Kisah Pernikahan Beda 14 Tahun Ini Bikin Heboh Jagat Maya, Terungkap Awal Pertemuan

Penyebab Kematian SAR

Tim Bid Dokes Polda Jateng bersama ketua RT, tokoh agama, dan tokoh masyarakat akhirnya mengecek jasad yang disimpan di dalam rumah.

Setelah itu, pihaknya memberikan pemahaman kepada keluarga SAR.

Setelah itu tim medis diperbolehkan untuk melakukan pemeriksaan.

Dari pemeriksaan yang dilakukan petugas medis dari Puskesmas Banyumudal Moga, SAR diperkirakan telah meninggal dunia dikarenakan penyakit TBC (tuberkulosis).

Setelah dilakukan pendekatan secara persuasif, pihak keluarga korban akhirnya mau memakamkan jenazah.

Mengutip dari Tribun Medan, Ustadz Zaenuri membenarkan bahwa ia bersama Muspika Moga mendatangi rumah tersebut dan sempat bernegosiasi cukup lama dengan pihak keluarga agar jenazah segera dimakamkan.

“Cukup lama dalam negosiasi dengan keluarga, ya sekitar 15 menitan.”

“Saya juga menjelaskan bahwa sebagai umat Islam pada jasad untuk segera dimakamkan sebagaimana mestinya.”

“Alhamdulillah, akhirnya pihak keluarga mau melakukanya,” kata Ustadz Zaenuri.

Ia menambahkan, selanjutnya korban langsung dimakamkan di tempat pemakaman keuarga yang berada di samping rumah.

Baca Juga: Pria Mengintip Bakal Kena Denda Besar, Inilah Hutan Keramat Indonesia yang Penuh dengan Wanita Telanjang Tanpa Sehelai Benang, Media Luar Sampai Keheranan!

Bukan Kali Pertama

Ternyata aksi tersebut bukan kali pertama dilakukan keluarga korban.

Informasi itu diungkapkan Camat Moga, Umroni, dalam kanal YouTube tvOneNews, Kamis (13/1/2022).

Meski jasad disimpan lebih dari dua bulan, warga sekitar tak mencium bau busuk dari rumah korban.

Diduga, keluarga memberikan obat atau ramuan khusus untuk mencegah bau busuk jasad korban menyebar.

“Ada dugaan jenazah diberi obat yang bisa mengurangi bau,” jelas Umroni.

“Ini adalah kali kedua dilakukan keluarga ini.¬† Sebelumnya pernah ketahuan warga.”

Lebih lanjut, menurut dia, keluarga ini juga pernah menyimpan jasad di rumah.

Jasad tersebut adalah adik korban.

“Jadi adiknya sebelumnya telah meninggal dan selama seminggu jenazahnya dibiarkan.”

“Tapi kemudian jenazah tersebut memunculkan bau sehingga mendesak masyarakat untuk memakamkan.”

Belajar dari pengalaman, keluarga ini kemudian memberikan obat khusus pada jasad korban sehingga tak mengeluarkan bau busuk

Artikel Asli

Sumber: suar.id

  • Bagikan