BMKG: Gempa 6,6 M di Banten Berjenis Dangkal Akibat Subduksi

  • Bagikan

Penjelasan tentang gempa yang menggucang wilayah Jabodetabek. Foto: Twitter/@DaryonoBMKG

BMKG memberi penjelasan soal gempa 6,6 magnitudo yang terasa di Jabodetabek dan berpusat di Banten, Jumat (14/1) sore. Gempa ini berjenis gempa dangkal yang terjadi akibat subduksi atau tunjaman antarlempeng.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno, dalam keterangan resminya.

Bambang mengatakan, mekanisme gempa ini bergerak naik.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” terangnya.

Kerusakan rumah warga usai gempa di Pandeglang, Banten. Foto: Dok. Istimewa

Sebelumnya, Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan gempa terjadi karena sumber sesar naik dan megathrust Selat Sunda.

“Mekanisme sumber sesar naik (thrusting) berasosiasi dengan sumber gempa megathrust Selat Sunda,” jelas Daryono dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan laporan BMKG, gempa ini terjadi pada pukul 16.05 WIB, berpusat di 52 kilometer barat daya Sumur, Banten, atau 132 kilometer arah barat daya Kota Pandeglang, dengan kedalaman 40 kilometer.

Titik gempa berada di laut, namun BMKG memastikan gempa ini tak berpotensi tsunami. Meski demikian, sejumlah rumah di kawasan Pandeglang dilaporkan rusak.

BMKG juga mencatat bahwa gempa dirasakan di Jabodetabek dengan skala II-III MMI. Skala itu berarti getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu.

Artikel Asli

Sumber: kumparan.com

  • Bagikan