Dampak Guncangan Gempa M 6,6 Sumur Pandeglang: Banten hingga Jakarta

  • Bagikan

BERITASEBELAS.COM – Gempa magnitudo (M) 6,6 berpusat di laut dekat Selat Sunda terasa hingga di beberapa wilayah. Gempa dirasakan dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati membeberkan dampak guncangan di beberapa daerah. Mulai dari wilayah Cikeusik, Jakarta, hingga Bekasi.

Gempa M 6,6 itu terjadi pada pukul 16.05 WIB. Episenter gempa yakni 7,01 LS dan 105,26 BT. Pusat gempa 52 km arah barat daya Sumur, Banten, dengan kedalaman 10 km.

Berikut data wilayah yang terdampak guncangan:

Baca juga: BMKG: Getaran Gempa M 6,6 Rusak Bangunan di Munjul-Cimanggu Pandeglang

– Cikeusik dan Panimbang, dengan intensitas guncangan skala MMI 6, artinya getaran dirasakan oleh semua orang dan di sini juga mengakibatkan kerusakan ringan, tembok plester terdapat juga lepas

– Labuan dan Sumur skala MMI IV yang artinya bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah

– Tangerang Selatan, Lembang, Kota Bogor, Pelabuhan Ratu, Kalianda, Bandar Lampung skala III-IV MMI, berarti dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah

– Anyer skala III MMI getarn dirasakan nyata dalam rumah, seakan getaran seakan truk berlalu

– Jakarta, Kota Tangerang, Ciracas, Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Bogor, Kotabumi, skala II-III MMI getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan akan truk berlalu.

Baca juga: BMKG Catat 5 Kali Gempa Susulan Usai Gempa M 6,6 Banten

BMKG Catat 5 Kali Gempa Susulan

Gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,7 yang kemudian diperbarui menjadi M 6,6 mengguncang Sumur, Banten. BMKG mencatat ada 5 kali gempa susulan pascagempa tersebut.

“Hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 5 kali,” kata Dwikorita.

Gempa susulan paling besar berkekuatan M 5,7.

“Dengan magnitudo terbesar M 5,7,” lanjutnya.

Dwikorita menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini berjenis gempa bumi dangkal. Gempa diakibatkan aktivitas subduksi.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ungkap Dwikorita.

(eva/dnu) gempa gempa banten gempa pandeglang gempa jakarta

Artikel Asli

Sumber: detik.com

  • Bagikan