Kisah Ratu Margrethe II, Si Pelukis yang 50 Tahun Berkuasa di Denmark

  • Bagikan

Ratu Denmark, Ratu Margrethe II. Foto: Tobias SCHWARZ / AFP

Kekuasaan Margrethe II, Ratu Kerajaan Denmark, memasuki tahun ke-50 pada Jumat (14/1). Ia menjadi salah satu ratu dengan periode kekuasaan terlama di dunia.

Perayaan 50 tahun kekuasaan Margrethe II, dalam bahasa Inggris disebut sebagai jubilee, terpaksa berlangsung secara sederhana. Sebab, lonjakan COVID-19 di Denmark menyebabkan seluruh perayaan besar harus ditunda hingga September 2022.

Ia akan merayakan pencapaian ini dengan upacara di Parlemen Denmark. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi peletakan karangan bunga di makam orang tuanya di wilayah Roskilde.

Ratu Margrethe II naik takhta pada 1972 silam, menyusul kematian sang Ayah, Raja Frederik IX. Saat itu, penolakan rakyat terhadap Kerajaan Denmark tengah memanas.

“Ketika ia menjadi ratu, hanya 45% rakyat Denmark yang setuju dengan adanya monarki,” ujar jurnalis Denmark Gitter Redder kepada kantor berita AFP.

Ratu Denmark, Ratu Margrethe II. Foto: Britta Pedersen / POOL / AFP

“Mereka saat itu tidak percaya dengan keberadaan kerajaan di tengah-tengah demokrasi modern,” imbuhnya.

Tetapi, Margrethe II sang “kekuatan pemersatu Denmark” berhasil menyingkirkan tantangan-tantangan di hadapannya. Ia sukses membawa rakyat kembali percaya kepada kerajaan, bahkan hingga 50 tahun setelahnya.

Jika pada 1972 hanya 45% rakyat yang setuju dengan adanya kerajaan, pada 2018, sebanyak 85,4% rakyat Denmark mendukung berlangsungnya kerajaan. Hanya 14,6% yang menginginkan Denmark menjadi republik.

“Dasar dari popularitasnya adalah sang Ratu [Margrethe II] sepenuhnya tidak politis,” ungkap sejarawan Denmark Hovebakke Sorensen.

“Ia berhasil menjadi ratu yang mempersatukan negara Denmark di waktu-waktu terjadinya perubahan besar: Globalisasi, munculnya negara multibudaya, krisis ekonomi tahun 1970-an, 1980-an, 2008 ke 2015, dan juga pandemi [COVID-19],” lanjut Sorensen.

Ratu Denmark, Ratu Margrethe II. Foto: Christof STACHE / AFP

Ratu berusia 81 tahun ini mengizinkan sebanyak 20 warga biasa Denmark untuk mewawancarainya dalam acara di stasiun televisi, dalam rangka perayaan 50 tahun kekuasaan.

Saat ini, ada empat penguasa monarki di seluruh dunia dengan periode kekuasaan terlama.

Mereka adalah Ratu Elizabeth II dari Inggris, 69 tahun; Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei, 54 tahun; Ratu Margrethe II dari Denmark, 50 tahun; dan Raja Carl XVI Gustaf, 48 tahun.

Siapakah Ratu Margrethe II?

Putri Mahkota Margrethe II menggantikan Ayahnya, Raja Frederik IX, di usia 31 tahun. Ia menjadi wanita pertama yang memegang takhta penguasa Denmark, kerajaan tertua di Eropa.

Ia mengadopsi nama Margrethe sebagai nama takhtanya, sebagai penghormatan dari Margrethe I yang memimpin Denmark pada 1375 hingga 1412. Margrethe I tidak pernah memiliki titel resmi, meskipun berkuasa cukup lama.

Dalam sebuah film dokumenter, Margrethe II mengungkapkan, sang Ayah mengajarkan dia untuk menerima seluruh rasa sayang dari rakyatnya.

Ratu Denmark, Ratu Margrethe II. Foto: Britta Pedersen / POOL / AFP

“Kamu harus menerimanya. Tidak hanya dengan sebuah lambaian tangan, kamu harus menerimanya,” ujar Margrethe II, mengutip Frederik IX.

Ia memiliki ciri khas tersendiri: Bola mata berwarna biru cerah, senyum lebar yang terus merekah, tubuh yang tinggi kurus, dan tatanan rambut yang ikonik dan selalu sama, yaitu disanggul.

Ia diberi nama panggilan oleh rakyatnya, yaitu “Daisy.” Margrethe II dianggap mampu memodernisasi kerajaan supaya tetap bisa mengikuti zaman, tanpa perlu mengurangi statusnya.

Di saat sejumlah monarki melarang anggotanya untuk menikah dengan rakyat jelata, Margrethe II mengizinkan dua anak laki-lakinya menikahi perempuan biasa.

Sang Ratu SeniRatu Denmark, Ratu Margrethe II. Foto: Britta Pedersen / POOL / AFP

Margrethe II dikenal dengan kemampuan artistiknya yang memukau. Ia adalah seorang pelukis serta desainer kostum dan set di sejumlah teater.

Ia fasih dalam lima bahasa, yaitu bahasa Denmark, Swedia, Prancis, Inggris, dan Jerman. Dengan kemampuan berbahasa yang memikat, Margrethe II pernah terjun langsung dalam proyek penerjemahan berbagai karya sastra, di bawah nama samaran.

Ia juga pernah menjadi ilustrator di sejumlah buku, salah satunya adalah novel “The Lord of the Rings” oleh J.R.R. Tolkien, edisi bahasa Denmark yang terbit pada 2022.

Berbagai lukisan Margrethe II pernah dipamerkan di museum dan galeri berkelas, baik di Denmark maupun di luar negeri.

Artikel Asli

Sumber: kumparan.com

  • Bagikan