Mahasiswa Ngotot, Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Marah

0
69
[Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Hj Anita Noeringhati di kawal aparat kepolisian saat menerima tuntutan dari puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Peduli Blok Corridor (GMPBC) yang menggelar aksi demonstrasi di halaman kantor DPRD Sumatera Selatan – foto Dudi beritasebelas]

Dudi

beritasebelas.com,Palembang – Puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Peduli Blok Corridor (GMPBC) menggelar aksi demonstrasi di halaman kantor DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) , Kamis 1 Agustus 2019.

Massa mengkritisi kebijakan Menteri ESDM yang memberikan perpanjangan kontrak blok corridor ke PT Conocophilips yang dinilai merupakan tindakan inskonstitusional.

Massa sempat ditemui Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Hj Anita Noeringhati didampingi anggota Komisi IV DPRD Sumsel, MF Ridho dan Efrans Effendi dan di kawal aparat kepolisian.

Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Hj Anita Noeringhati memahami apa yang disampaikan para mahasiswa ini, namun dia menyayangkan sikap mahasiswa yang menyampaikan aspirasi harus dengan ngotot.

“Sekarang apa yang adek-adek sampaikan kepada kami, saya adalah Ketua Komisi IV DPRD Sumsel berserta rekan-rekan saya ada pak Ridho ada pak Efrans dan ada yang lainnya lagi, tadi sudah diterima Ketua DPRD, namun apa yang menjadi maksud, tujuan adek-adek, kami Komisi IV belum sepenuhnya paham, apa yang menjadi tujuan dan maksud dari adek-adek didalam menyampaikan aspirasi di lapangan DPRD ini, saya minta juru bicara menyampaikan apa yang harus kami bawa ke rapat Komisi IV yang membidangi pembangunan antara lain diantaranya migas,” katanya.

Politisi Partai Golkar ini mengaku pernah menjadi mahasiswa dan apa yang menjadi gerakan mahasiswa pihaknya paham.

“Tapi jangan sampai kita ini salah sasaran, adek-adek marahnya sama kami DPRD Sumsel, adek-adek katakan DPRD enggak tahu lah, DPRD begini, kami harus ngomong kepada adek-adek sistim tata kelola tentang gas dan semuanya itu seluruhnya perizinannya dari pusat, nah adek-adek mengeluhkan kinerja OPD Sumatera Selatan, kalau kami tidak tahu, adek-adek boleh marah, kalau adek-adek minta di wakilkan kepada kami, jangan seperti begitu, kami akan kawal, apa yang kamu mau sampaikan tadi, kami paham kita sebagai masyarakat Sumsel bukan hanya migas, kita punya batubara, kita punya sumber daya alam semuanya, tapi cek juga berapa dana bagi hasil migas Sumsel, itu juga harus diperjuangkan , apa yang kalian inginkan, kita DPRD akan fasilitasi ke DPR RI yang mempunyai mitra dengan kementrian, apa yang kalian keluhkan kami akan sampaikan,” kata Anita.

Belum selesai Anita berbicara salah satu mahasiswa langsung memotong dengan mengatakan “Langsung saja bu kapan bisa dipertemukan,” kata mahasiswa tersebut.

Akibatnya situasi menjadi memanas, Anita menjelaskan kalau mempertemukan harus ada koordinasi dengan pusat,”Kalau saudara-saudara mau bertemu dengan kami kami langsung berdiri depan adek-adek semua,”kata Anita.

Lagi-lagi, penjelasan Anita langsung di potong salah satu mahasiswa yang mengatakan, “Tadi anomaly tadi, pengecualian,” kata mahasiswa tersebut.

Melihat sikap mahasiswa tersebut, Anita langsung menegur mahasiswa tersebut dengan santun.

”Jangan seperti itu, adek-adek minta kami fasilitasi, tapi adek-adek menyatakan seperti itu, kita kan harus koordinasi dengan pusat, siapa yang bisa menerima dalam hal ini, kan seperti itu, jadi apa yang adek-adek sampaikan, kami akan tampung, kami akan koordinasi dengan Ketua DPRD untuk kita fasilitasi adek-adek, bagaimana bisa ketemu dengan komisi yang membidangi migas, silahkan apa yang akan kalian sampaikan, akan kami sampaikan kepada pimpinan,” kata Anita.

Dan perwakilan mahasiswa kembali meminta kepastian kapan mereka bisa dipertemukan dengan DPR RI kepada Anita.

“Kami tahu alurnya panjang, tapi kalau ibu pernah sebelumnya menghubungkan orang dengan DPR RI atau pernah sebelumnya berhubungan dengan DPR RI seharusnya ibu tahu berapa lama alurnya, seharusnya,” kata perwakilan mahasiswa.

Anita lalu mempertanyakan mana surat yang akan disampaikan mahasiswa kepada DPR RI. Dengan enteng perwakilan mahasiswa menjawab “dibuat.” Hal ini membuat Anita langsung naik pitam dan langsung memarahi mahasiswa tersebut.

”Ya buatlah! kalau memang itu, kita harus tahu agenda DPR RI, apalagi Agustus ini DPR RI sudah purna tugas, beda dengan Sumatera Selatan, Agustus ini sudah pelantikan anggota DPR RI, jadi adek-adek bisa membayangkan, bagaimana kesibukan mereka dalam rangka purna tugas,” kata Anita dengan nada tinggi.

Namun mahasiswa kembali  ngotot meminta ketegasan DPRD Sumsel,”Kami minta tegas saja buk, ini mau diumumkan atau enggak, kalau iya kapan,” kata mahasiswa tersebut.

Kemudian Anita menjawab, dia tidak bisa memastikan  kapan,” Sekarang intinya begini saja mana tuntutan kalian, apa yang harus kami sampaikan , akan segera kami sampaikan dengan pimpinan DPRD,” kata Anita dengan nada tinggi.

Namun lagi-lagi mahasiswa tersebut menyela” Kan pimpinannya didalam buk,” kata mahasiswa tersebut. Kemudian Anita langsung mengakhiri pembicaraannya dengan mahasiswa tersebut sambil mengucapkan terima kasih atas kunjungan para mahasiswa tersebut.

“Adek-adek harus tahu, kami ini sedang membahas anggaran,” kata Anita, namun mahasiswa ini langsung memotong penjelaskan Anita dan mengatakan karena tidak ada kepastian mereka minta dalam waktu seminggu agar DPRD Sumsel dapat mempertemukan para mahasiswa dengan DPR RI, jika tidak mereka mengancam akan datang ke DPRD Sumsel dengan massa lebih banyak.

Sebelum bubar, perwakilan mahasiswa tersebut memberikan surat tuntutan kepada Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Hj Anita Noeringhati. Sebelumnya dalam orasinya Koordinator isu energi, minerba, BEM Seluruh Indonesia untuk periode 2019, Saproadi mengatakan,  kalau blok coridor 100 persen milik Indonesia.

“Kami menolak tindak lanjut dari keputusan perpanjangan kontrak kerja sama dengan Wilker blok corridor kepada ConocoPhillips,” katanya.

 

 

print