Merasakan Keasrian Kasepuhan Ciptagelar, Lokasi Perayaan Sewindu UU Desa

  • Bagikan

Sawah di Kasepuhan Ciptagelar. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Kasepuhan Ciptagelar menjadi lokasi perayaan sewindu atau 8 tahun lahirnya UU Nomor 6 tahun 2014 atau UU Desa. Desa di kawasan Pegunungan Halimun-Salak, Cisolok, Sukabumi, ini dipilih Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) karena keasriaannya.

Keasrian Kasepuhan Ciptagelar terlihat dari hamparan sawah padi yang masih hijau dengan bangunan leuit atau lumbung padi masyarakat sunda berjajar rapi. Suasana mendung menambah hawa sejuk khas pedesaan.

Sementara itu, riuh menjelang perayaan sewindu UU Desa terasa di Ciptagelar. Ada sebuah panggung tempat perayaan lengkap dengan kelap kelip lampu penghiasnya. Masyarakat desa menyambut suka cita perayaan ini.

Lumbung padi tempat menyimpan hasil panen. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Desa ini sebenarnya masih memegang teguh adat istiadat. Meski begitu, warga desa tetap menerima perkembangan teknologi.

Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi, mengatakan, teknologi yang masuk tetap perlu dipilah. Sebab teknologi memiliki dampak positif maupun negatif.

“Dan rata-rata yang paling penting itu sebenarnya kita sebagai orang tua ke anak-anak itu cuma menjelaskan mana baiknya, mana sisi buruknya. Kalau kita sudah jelaskan ya semuanya dikembalikan kepada warga, sama anak-anak kita,” kata Abah Ugi di lokasi, Jumat (14/1).

“Jadi ya kita pilah mana yang baik buat warga abah, mana yang tidak boleh, ya kita sebisa mungkin ke anak-anak kita, ini tidak bisa digunakan,” lanjutnya.

Adat Menanam Padi di Ciptagelar Dilakukan Turun TemurunKetua Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Abah Ugi merupakan pemimpin generasi ke-10 sejak 1368 kasepuhan ini terbentuk. Sejak lama desa adat ini bertumpu pada bidang agraris atau pertanian.

“Adat istiadat menanam padi dari leluhur sampai hari ini tetap kita lestarikan dan mungkin diregenerasikan ke keturunan abah berikutnya,” ucap Abah Ugi.

Menurut Abah Ugi, ada sekitar 168 varietas padi yang ditanam warga Ciptagelar. Penanaman padi juga ada aturan adat yang mesti ditaati.

“Patokannya kita ada 2 rasi bintang, Kidang sama Kerti,” kata Abah Ugi menjelaskan soal waktu menanam padi disesuaikan dengan rasi bintang.

“Ketika Kidang tepat di atas kepala kita, kalau lihat di luar kita tengah malam itu lurus, oh berarti di situ kita mulai bisa menanam padi. Kalau misalkan Kerti, Kidang udah enggak keliatan di situ biasanya hama mulai bermunculan,” lanjut Abah.

Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Hasil tanam padi yang dipanen juga tidak dijual. Padi yang baru dipanen itu disimpan dalam lumbung dan hanya digunakan untuk makan warga.

Alhasil, kasepuhan ini memiliki ketahanan pangan yang sangat kuat. Menurut Abah Ugi, stok padi yang berada di lumbung Ciptagelar masih cukup untuk 6 tahun ke depan.

“Untuk saat ini abah dengan warga kalau misalkan pasokan yang ada itu ya mungkin 5-6 tahun cukup pasokan yang ada,” tutup Abah Ugi.

Perayaan sewindu UU Desa digelar pada Sabtu (15/1) besok. Acara tersebut bertema ‘Percaya Desa, Desa Bisa” dan dibuka langsung oleh Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar.

Artikel Asli

Sumber: kumparan.com

  • Bagikan