Penyebab Penendang Sesajen di Semeru DO dari UIN Yogya: Tak Bayar Kuliah

  • Bagikan

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Al Makin. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hadfana Firdaus, pelaku penendangan sesajen di Gunung Semeru, drop out (DO) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia masuk jurusan Pendidikan Bahasa Arab tahun 2008 dan dikeluarkan pada tahun 2014.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Al Makin membeberkan penyebab Hadfana DO tahun 2014, karena dia tidak membayar kuliah sejak tahun 2011.

“Kuliah sampai semester 6. Mulai dari 2011 2012 tidak lagi melakukan pembayaran. Maka sudah dinyatakan drop out pada tahun akademi 2013/2014. Karena tidak melakukan daftar ulang lebih 3 kali. Maka tercatat di sistem akademik kami DO sejak 24 mei 2014,” kata Al Makin ditemui di kampusnya, Jumat (14/1).

Sementara, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Prof Sri Sumarni, saat ditanya soal karakter Hadfana saat berkuliah mengaku tidak mengetahui. Pasalnya yang bersangkutan masuk pada 2008 dan kaprodi yang menjabat saat itu sudah meninggal.

“Masuk 2008 kalau sekarang sudah 2021 sudah sangat lama dan perlu saya sampaikan ketika S1 Bahasa Arab Kaprodi saat itu Kiai Ahmad Rodli dan kebetulan sudah wafat,” kata Sumarni.

“Para dosen kebetulan karena berita baru kemarin dan hari ini kita sibuk belum sempat bertanya kepada dosen yang mengajar belum sempat bertanya mencari info lanjut tentang karakter yang bersangkutan selama di UIN,” kata dia.

Penendang sesajen di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur berinisial HF ditangkap polisi di wilayah Kabupaten Bantu. Foto: Dok Polda DIY

Al Makin sendiri juga membuka peluang pelaku untuk berkuliah kembali ke UIN Sunan Kalijaga asalkan sudah bertobat.

“Ya kecewa pasti kecewa Anda semua kecewa, Bangsa Indonesia kecewa. Tapi kekecewaan itu jangan lalu membunuh karakter seseorang. Kalau dia kompeten ingin bertobat, ingin kembali ke Akhlakul Kharimah, ingin bertoleransi ya UIN siap kalau dia lulus ujian kan masuk lagi harus melalui ujian,” kata Al Makin.

Al Makin menjelaskan, jangankan di UIN di lembaga lain seperti pesantren atau seminari pasti mempunyai beberapa murid yang tidak sesuai harapan.

“Mungkin saya sendiri tidak sempurna Anda tidak sempurna. Tapi kalau itu tidak terlalu merugikan dan tidak terlalu besar ya jangan dibesarkan,” kata dia.

Menurut Al Makin, bagaimanapun masa depan pelaku tetap harus diselamatkan. Jangan sampai kasus ini justru membunuh karakternya.

“Dia kan punya masa depan ya UIN sangat senang kalau dia kembali ke UIN bertobat, menjadi orang toleran mendaftar UIN lulus ujian kenapa tidak,” pungkasnya.

Artikel Asli

Sumber: kumparan.com

  • Bagikan