Genjatan Senjata, Politik di Israel di Ujung Tanduk, dan Perang Gaza Siapa Unggul?

Sunday, 7 July 2024
Genjatan Senjata, Politik di Israel di Ujung Tanduk, dan Perang Gaza Siapa Unggul?
Genjatan Senjata, Politik di Israel di Ujung Tanduk, dan Perang Gaza Siapa Unggul?


BERITASEBELAS.COM - 
Perlawanan sengit antara Hamas dan Israel yang tak kunjung berakhir sejak 7 Oktober 2023, belum menunjukkan akan berakhir, tetapi upaya mewujudkan perundingan genjatan senjata terus dilakukan.


Teranyar, pekan ini, kantor Netanyahu mengatakan bahwa para perundingnya, telah menerima respons Hamas tentang kesepakatan prospektif yang akan memastikan pembebasan sandera dengan imbalan gencatan senjata di Gaza.


Kepala Intelijen Israel David Barnea bertolak ke Qatar pada Jumat untuk melanjutkan pembicaraan tidak langsung dengan Hamas. Kantor Netanyahu mengatakan negosiasi akan dilanjutkan minggu depan dan masih ada perbedaan pandangan di antara kedua belah pihak.


Reuters melaporkan, Hamas telah menerima usulan Amerika Serikat untuk memulai pembicaraan mengenai pembebasan sandera Israel, termasuk tentara dan pria, 16 hari setelah tahap pertama perjanjian yang bertujuan untuk mengakhiri perang Gaza.


Kelompok Islam tersebut telah membatalkan tuntutan agar Israel terlebih dahulu berkomitmen pada gencatan senjata permanen sebelum menandatangani perjanjian tersebut. Mereka akan mengizinkan negosiasi untuk mencapai hal tersebut selama enam pekan tahap pertama, kata sumber tersebut kepada Reuters tanpa menyebut nama karena pembicaraan tersebut bersifat pribadi.


Seorang pejabat Palestina yang dekat dengan upaya perdamaian yang dimediasi secara internasional mengatakan bahwa proposal tersebut dapat menghasilkan kesepakatan kerangka kerja jika diterima oleh Israel dan akan mengakhiri perang sembilan bulan antara Israel dan Hamas di Gaza.


Sebuah sumber di tim perundingan Israel, yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya, mengatakan sekarang ada peluang nyata untuk mencapai kesepakatan. Hal ini sangat kontras dengan kejadian di masa lalu dalam perang sembilan bulan di Gaza, ketika Israel mengatakan persyaratan yang diberikan oleh Hamas tidak dapat diterima.


Juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak segera menanggapi permintaan komentar pada Sabtu, hari Sabat Yahudi. Pada Jumat, kantornya mengatakan pembicaraan akan dilanjutkan pekan depan dan menekankan bahwa kesenjangan antara kedua belah pihak masih ada.


Konflik tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 38 ribu warga Palestina, menurut pejabat kesehatan Gaza, sejak Hamas menyerang kota-kota Israel selatan pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang, menurut angka resmi Israel.


Proposal baru tersebut memastikan bahwa mediator akan menjamin gencatan senjata sementara, pengiriman bantuan dan penarikan pasukan Israel selama pembicaraan tidak langsung terus melaksanakan tahap kedua perjanjian tersebut, kata sumber Hamas.


Upaya untuk mengamankan gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza telah meningkat selama beberapa hari terakhir dengan adanya diplomasi antar-jemput yang aktif antara Washington, Israel dan Qatar, yang memimpin upaya mediasi dari Doha, tempat kepemimpinan Hamas di pengasingan bermarkas.


Sebuah sumber regional mengatakan pemerintah Amerika Serikat berusaha keras untuk mencapai kesepakatan sebelum pemilihan presiden pada bulan November.


Netanyahu mengatakan pada hari Jumat bahwa kepala badan intelijen Israel Mossad telah kembali dari pertemuan awal dengan mediator di Qatar dan negosiasi akan dilanjutkan pekan depan.


Mansour Shouman, seorang warga Gaza yang pernah mengalami perang di Rafah dan Khan Younis, mengatakan kepada Al Jazeera dari Istanbul Turki bahwa “rakyat Palestina di dalam dan di luar Gaza merasa sedikit lebih optimis” mengenai perundingan gencatan senjata yang diadakan di Doha, Qatar.


“Sumber yang dekat dengan tim perundingan Palestina mengatakan kepada kami bahwa mereka menjadi lebih lunak pada beberapa poin yang menghambat kemajuan negosiasi,” katanya.


“Poin-poin tersebut antara lain pembebasan tentara Israel yang ditangkap pada 7 Oktober dengan imbalan gencatan senjata jangka panjang, penarikan pasukan Israel dari seluruh Gaza dan pembukaan semua perbatasan,” tambahnya.

Negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan apa pun, namun “keadaannya jauh lebih optimis dibandingkan sebelumnya”, kata Shouman.


Sementara itu, di tengah upaya genjatan senjata dan Israel yang tak kunjung melumpuhkan Hamas, instabilitas politik di Israel menguat. Gerakan unjuk rasa di Israel mendeklarasikan tanggal 7 Juli sebagai "hari perlawanan" nasional terhadap pemerintah, dengan ratusan demonstran sejak pagi hari memblokir persimpangan dan jalan raya di seluruh negeri.


Gerakan protes itu juga menuntut penyelenggaraan pemilu dini dan pembebasan segera para sandera yang diculik oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023, tepat sembilan bulan yang lalu, demikian sebagaimana dilaporkan Sputnik, Ahad (7/7/2024).


Banyak video di media sosial menunjukkan aksi para demonstran tersebut. Aksi unjuk rasa besar-besaran diperkirakan akan terjadi di Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, serta puluhan kota lainnya. Namun polisi Israel belum memberikan komentar tentang aksi unjuk rasa hari ini.


Para aktivis berencana mengadakan unjuk rasa di depan kantor Federasi Pekerja di Tel Aviv, dan menuntut agar serikat pekerja "menghentikan perekonomian." Protes diperkirakan mencapai puncaknya pada malam hari. Peserta unjuk rasa juga berencana untuk memprotes di dekat kediaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem.


Aksi protes anti-pemerintah yang menuntut pemilu dini dan pembebasan segera para sandera telah diadakan setiap pekan di Israel selama beberapa bulan terakhir. "Hari Perlawanan" yang diproklamirkan guna memperingati sembilan bulan penyerangan kelompok Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, memicu eskalasi konflik Palestina-Israel hingga saat ini.


Dalam kejadian 7 Oktober itu, kelompok Hamas menculik lebih dari 250 warga dari Israel selatan. Diperkirakan sekitar 120 sandera Israel ditahan oleh Hamas, termasuk 40 di antaranya yang diduga telah meninggal


Majalah Foreign Affairs mengeluarkan laporan cukup mengejutkan. Melalui artikel bertajuk Hamas Is Winning Why Israel’s Failing Strategy Makes Its Enemy Stronger yang dilansir Jumat (21/6/2024), Foreign Affairs menyebut Hamas lebih kuat hari ini dibandingkan dengan 7 Oktober.


Perjuangannya lebih populer dan daya tariknya lebih kuat daripada sebelum 7 Oktober.


Majalah itu menulis dalam sebuah laporan: "Setelah sembilan bulan perang yang melelahkan, sekarang saatnya untuk mengakui kenyataan pahit: tidak ada solusi militer semata untuk mengalahkan Hamas," dan menambahkan bahwa "Hamas tidak dikalahkan atau berada di ambang kekalahan."


Ia juga mencatat: "Israel telah menginvasi Gaza utara dan selatan dengan sekitar 40 ribu tentara tempur, secara paksa mengungsikan 80 persen penduduk, membunuh lebih dari 37 ribu orang, menjatuhkan sedikitnya 70 ribu ton bom di wilayah tersebut (melebihi berat gabungan bom yang dijatuhkan di London, Dresden, dan Hamburg selama Perang Dunia II), menghancurkan atau merusak lebih dari separuh bangunan di Gaza, serta membatasi akses wilayah tersebut terhadap air, makanan, dan listrik, sehingga membuat seluruh penduduk berada di ambang kelaparan."


Menurut majalah tersebut: "Meskipun banyak pengamat telah menyoroti amoralitas perilaku Israel, para pemimpin Israel secara konsisten menyatakan bahwa tujuan mengalahkan Hamas dan melemahkan kemampuannya untuk melancarkan serangan baru terhadap warga sipil Israel harus didahulukan daripada keprihatinan tentang kehidupan warga Palestina. Hukuman terhadap penduduk Gaza harus diterima sebagai hal yang diperlukan untuk menghancurkan kekuatan Hamas."


Namun, Foreign Affairs menyatakan: "Kelemahan utama dalam strategi Israel bukanlah kegagalan taktik atau pengenaan batasan-batasan terhadap kekuatan militer, sama seperti kegagalan strategi militer Amerika Serikat di Vietnam yang tidak ada hubungannya dengan kecakapan teknis pasukannya atau batasan-batasan politis dan moral dalam penggunaan kekuatan militer. Sebaliknya, kegagalan yang paling utama adalah kesalahpahaman yang besar terhadap sumber-sumber kekuatan Hamas. Yang sangat merugikan, Israel telah gagal menyadari bahwa pembantaian dan kehancuran yang dilancarkannya di Gaza hanya membuat musuhnya menjadi lebih kuat."


"Meskipun mengalami kekalahan, Hamas secara de facto masih menguasai sebagian besar wilayah Gaza, termasuk daerah-daerah di mana warga sipil kini terkonsentrasi," tambahnya.


Menurut penilaian Israel baru-baru ini, Hamas sekarang memiliki lebih banyak pejuang di wilayah utara Gaza, yang direbut IDF pada musim gugur dengan mengorbankan ratusan tentara, dibandingkan dengan yang ada di Rafah di selatan.


Laporan itu juga menunjukkan bahwa Hamas: "Masih dapat melakukan serangan di Israel; Hamas kemungkinan memiliki sekitar 15 ribu pejuang yang dimobilisasi-kurang lebih sepuluh kali lipat dari jumlah pejuang yang melakukan serangan 7 Oktober. Selain itu, lebih dari 80 persen jaringan terowongan bawah tanah kelompok ini masih dapat digunakan untuk merencanakan, menyimpan senjata, dan menghindari pengawasan, penangkapan, dan serangan Israel. Sebagian besar pimpinan tertinggi Hamas di Gaza masih utuh."


Majalah tersebut menjelaskan pengeboman dan invasi darat Israel ke Jalur Gaza tidak menyebabkan penurunan dukungan rakyat Palestina, dan: "Dukungan terhadap serangan bersenjata terhadap warga sipil Israel tampaknya telah meningkat terutama di kalangan warga Palestina di Tepi Barat, yang kini setara dengan tingkat dukungan yang tinggi secara konsisten terhadap serangan-serangan ini di Gaza, yang menunjukkan bahwa Hamas telah memperoleh keuntungan yang luas di seluruh masyarakat Palestina sejak tanggal 7 Oktober."


Seorang pejabat Amerika Serkat mengatakan kepada perusahaan penyiaran televisi CBS bahwa Israel belum mencapai tujuannya untuk menghancurkan Hamas, mengingat kurangnya rencana Israel untuk hari setelah perang di Gaza.


"Usaha menghancurkan Hamas, membuat Hamas lenyap - itu hanya melemparkan pasir ke mata publik," kata juru bicara militer Israel Daniel Hagari.


Ia menambahkan bahwa kelompok tersebut akan tetap menguasai Jalur Gaza kecuali Israel mengembangkan sesuatu yang lain untuk menggantikannya.


Sumber: republika

SEBELUMNYA

Komentar

Artikel Terkait

Terkini