Riwayat Gempa dan Tsunami di Banten, Terjadi 8 Kali Sejak 1851-2019

  • Bagikan

Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock

Gempa berkekuatan 6,6 magnitudo mengguncang wilayah selatan Banten pada Jumat (14/1) pukul 16.05 WIB. Di wilayah ini, gempa bumi dan/atau tsunami sudah terjadi sebanyak delapan kali sejak 1851 hingga 2019.

Ini disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual.

“Perlu kami sampaikan sejarah kegempaan, dari tahun 1851 hingga 2019, telah terjadi beberapa kali gempa bumi di wilayah tersebut,” ujar Dwikorita.

“Yaitu pertama di 1851, pada 4 Mei, gempa bumi merusak di Teluk Betung dan Selat Sunda. Dan setelah gempa, terjadi tsunami dengan ketinggian 1,5 meter,” lanjutnya.

Selanjutnya, terjadi gempa kuat yang diikuti tsunami kecil pada 9 Januari 1852. Tidak disebutkan seberapa besar kekuatan gempa di tahun ini.

Kerusakan rumah warga usai gempa di Pandeglang, Banten. Foto: Dok. Istimewa

“27 agustus 1883, tsunami dahsyat menurut catatan historis, ketinggian mencapai 30 meter akibat erupsi [Gunung] Krakatau, bahkan di atas 30 meter, akibat erupsi Krakatau,” jelas dia.

Keempat, terjadi gempa bumi di wilayah ini pada 23 Februari 1903. Kekuatan gempa mencapai 7,9 magnitudo, berpusat di Selat Sunda. Gempa tersebut bersifat merusak dan menyebabkan kerusakan di Banten. Tidak disebutkan apakah diikuti tsunami atau tidak.

“26 Maret 1928, terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pascagempa kuat. Tidak disebutkan gempa kuatnya berapa [magnitudo],” kata Dwikorita.

Keenam, pada 22 April 1958 terjadi gempa kuat di Selat Sunda yang diikuti dengan tsunami. Tidak diketahui berapa magnitudo dari gempa ini.

Kejadian gempa ketujuh terjadi dalam rentang waktu yang cukup jauh, yaitu pada 2018.

Kerusakan rumah warga usai gempa di Pandeglang, Banten. Foto: Dok. Istimewa

“Dan ketujuh, tanggal 22 Desember 2018, Selat Sunda dilanda tsunami akibat longsoran [Gunung] Anak Krakatau. Dan 2 Agustus 2019, terjadi gempa magnitudo 7,4 yang merusak wilayah Banten dan berpotensi tsunami,” jelasnya.

Berarti, gempa yang terjadi pada 14 Januari 2022 ini menjadi gempa kesembilan yang mengguncang wilayah Banten dan Selat Sunda.

Menurut penjelasan BMKG, gempa tektonik ini sebelumnya dilaporkan 6,7 magnitudo, kemudian direvisi menjadi 6,6 magnitudo.

Episenter gempa terletak pada koordinat 7,21 LS dan 105,05 BT, atau tepatnya di laut berjarak 132 km arah barat daya Pandeglang, Provinsi Banten, dengan kedalaman 40 km. Terjadi kerusakan rumah warga di sejumlah wilayah, seperti di Kecamatan Cikeusik.

Artikel Asli

Sumber: kumparan.com

  • Bagikan