Suara Anker Merespons Wacana Tarif KRL Naik Jadi Rp 5.000

  • Bagikan

Jakarta –

Wacana kenaikan tarif dasar KRL untuk 25 km pertama dari Rp 3.000 menjadi Rp 5.000 menuai pro dan kontra dari warga pengguna KRL atau sering disebut anak kereta (anker).

Salah satu pengguna rutin KRL, Shelma (28), mengaku tak masalah tarif dasar KRL naik asalkan dibarengi peningkatan fasilitas. Dia menilai kondisi di dalam gerbong kereta terlalu padat.

“Selama fasilitasnya baik ya, terus, apa namanya… kan sering ya kita berangkat kerja pulang kerja masih ada yang berdiri kayak gitu-gitu, kayak udah mepet banget gitu. Kalau misalnya masih ada space atau apa pun buat kenyamanan penumpangnya, nggak masalah sih naik juga,” ujar Shelma di Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (14/1/2022).

Baca juga: Komisi V Sarankan Subsidi ke KRL Ditambah Jika Rakyat Merasa Berat Tarif Naik

Namun dia menolak kenaikan tarif KRL jika kondisi di dalam gerbong KRL masih penuh sesak. Dia mengatakan kondisi berdesakan di dalam KRL membuat penumpang tak nyaman.

“Tapi kalau menurut aku, ya dengan keadaan kita misalnya masih berdiri gitu-gitu, kadang yang sampai kita empet-empetannya kayak nggak karuan dalam kereta, kayaknya mending nggak usah dinaikin dulu sih itu. Itu sih kalau masih kayak gitu, mendingan nggak usah dinaikin dulu deh, gitu,” ujarnya.

Anak kereta lainnya, Merry (63), mengatakan kenaikan tarif dasar harus dibarengi peningkatan kenyamanan bagi penumpang. Dia mengatakan saat ini penumpang harus berdesakan di dalam gerbong KRL, padahal sedang pandemi Corona.

“Banyak masih berdiri juga dempet-dempet begitu, padahal kan lagi pandemi kan, harusnya dibatasi dong katanya, ya kita yang duduk udah jaga jarak, yang berdiri ini masih tetep,” ujarnya.

Baca juga: Dear Anker, Tarif KRL Naik Jadi Rp 5.000 Setuju Nggak?

Merry mengatakan tidak mempermasalahkan kenaikan tarif dasar tersebut. Namun dia berharap layanan bagi penumpang juga semakin baik.

“Tapi kalau untuk naik dengan keadaan masih berjejal, terus udah gitu lansia, kadang-kadang mereka (penumpang lain) tuh duduk, terus tidur, lansia mau duduk, (mereka) belagak tidur aja, nggak dikasih duduk begitu, deh. Saya pernah pagi saya naik kereta, ya begitu, penuh, nah terus saya sebagai lansia nih, mau duduk mereka lagi tidur, sampai ngorok-ngorok lho, bener,” kata Merry.

“Nah itu saja sih kalau bagi saya, naik ya nggak masalah, mungkin memang harus naik,” ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Selanjutnya Halaman 1 2 krl tarif krl tarif krl naik

Artikel Asli

Sumber: detik.com

  • Bagikan