Terhimpit Peradaban Modern, Begini Cara Ciptagelar Pertahankan Tradisi

  • Bagikan

Sukabumi –

Suara musik terdengar kencang dari pengeras suara di atas panggung, lampu sorot warna-warni meliuk-liuk bergantian. Sejumlah warga berikat kepala bergerak mendekat, mereka memperhatikan setiap liukan lampu sorot yang sepertinya asing bagi mereka.

Rupanya, beberapa orang memang tengah sibuk mempersiapkan lokasi acara untuk kedatangan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar ke Kampung Adat Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Rencananya, pria yang akrab disapa Gus Menteri ini akan merayakan Sewindu Undang-undang Desa di perkampungan adat tersebut. Puncak acara akan digelar pada Sabtu (15/1/2022) besok, sejumlah spanduk hingga baliho besar memajang foto Mendes PDTT.

Baca juga: Mendes Sebut UU Desa Berdampak Signifikan Tingkatkan Kualitas Desa

“Karak abah ningali lampu kuat kitu, nyorot moncorong. Bisa kikituan, jigana karak ayeuna aya kikituan didieu, (Baru abah melihat lampu sampai seperti itu, berkilauan. Bisa seperti itu, sepertinya baru sekarang ada gang seperti itu disini),” kata Abah Ugan (60), warga setempat saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/1/2022).

Meski sudah terlihat modernisasi di berbagai sudut perkampungan, televisi, jaringan listrik hingga telepon seluler Kampung Adat Ciptagelar masih kuat mempertahankan tradisi bahkan hingga hari ini. Hal itu tidak lepas dari perananan Abah Ugi, selaku Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar.

“Untuk teknologi sendiri kalau di tempat yang lain mungkin teknologi itu kalau enggak boleh tetap enggak boleh, kalau di wilayah Abah sendiri dipilah mana teknologi yang boleh kita gunakan mana yang tidak boleh kita gunakan, semua kembali kepada pemegangnya,” kata pria bernama lengkap Abah Ugi Sugriana Rakasiwi kepada detikcom.

Foto: Dok. Syahdan Alamsyah/detikcomBaca juga: Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi Bikin Terkesan Ridwan Kamil: Tidak Gaptek

Abah meyakini tradisi, adat dan aturan leluhur yang dipelihara turun temurun hingga hari ini sudah tertanam di warganya dengan baik.

“Rata-rata yang paling penting itu kita dari orang tua ke anak-anak menjelaskan mana baiknya mana sisi buruknya, jadi ya kalau kita udah jelaskan semuanya dikembalikan sama warga sama anak-anak kita. Yang penting itu kita udah kasih tau dampak negatifnya,” ungkap Abah Ugi.

“Kita sudah menjelaskan dampak positifnya teknologi itu seperti ini dan sebagainya, tergolong paling kita banyak ngobrol dengan anak-anak masalah teknologi yang modern. Dan karena teknologi modern juga ada yang sama sekali engak boleh, ya kita sebisa mungkin menghindari itu semua, ya kita pilah menghindari, mana yang buat warga Abah ya kita gunakan, mana yang enggak boleh ya sebisa mungkin kita ke anak-anak kita ini enggak boleh digunakan di adat,” sambungnya.

Halaman Selanjutnya: Aturan Pertahankan Tradisi

Selanjutnya Halaman 1 2 kampung adat ciptagelar tradisi jawa barat birojabar

Artikel Asli

Sumber: detik.com

  • Bagikan