Warga Berharap Desa Merah Mata Jadi Kecamatan

0
278

Advertorial

beritasebelas.com,Banyuasin – Pemekaran tampaknya masih menjadi isu menarik. Seperti dilontarkan warga Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin berharap desa mereka bisa naik status menjadi kecamatan.

[Kordinator reses dapil 10 memberikan sambutan saat reses di Desa Merah Mata]
Harapan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Desa Merah Mata, Ruslan, kepada anggota DPRD Sumsel asal Daerah Pemilihan (Dapil) X (Banyuasin) pada kegiatan reses tahap II DPRD Sumsel tahun 2019.

Reses digelar selama sepekan sejak 18 hingga 23 Desember 2019 diikuti MF Ridho, ST, MT sebagai koordinator dengan anggota Nasrul Halim, SH,  Maliono, SH, Nadia Basjir, SE, Marzuki, SE, Muhammad Yaser, SE, dan Herman.

[Menyanyikan lagu Indonesia Raya]
Saat  rombongan mengunjungi Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin. Kepala Desa (Kades) Merah Mata, Ruslan, dalam sambutannya, mengatakan pihaknya sangat bangga, karena desa mereka dikunjungi para wakil rakyat, dan ini merupakan yang pertama kali.

Dia memastikan, warga Desa Merah Mata akan semangat mendengarkan program-program pembangunan yang akan disampaikan oleh anggota DPRD Sumsel. Pada kesempatan ini Ruslan mengutarakan, penduduk di Desa Merah Mata berjumlah 1.800 kepala keluarga (KK). Menurut dia, dengan jumlah penduduk sebesar itu, bisa dilakukan pemekaran, dimana Desa Merah Mata menjadi satu kecamatan sendiri atau apabila di mekarkan dapat menjadi  tiga atau empat desa.

[Memberikan sumbangan pembangunan musolah]
“Kami berharap Merah Mata dapat menjadi kecamatan. Sudah berkali-kali diajukan tapi belum terealisasi,” ujar Ruslan.

Selain menyampaikan aspirasi tersebut, Ruslan juga minta dilakukan perbaikan jalan poros desa yang kini putus dan jembatan. Aspirasi ini disambut positif. Koordinator Dapil X, MF Ridho mengatakan, pemekaran desa menjadi kecamatan merupakan visi yang baik. Namun Ridho menjelaskan, untuk bisa merealisasikan aspirasi ini, merupakan tugas khusus dari pihak pemerintah kabupaten maupun kecamatan.

“Provinsi ada andil, tapi setelah proses selesai dari kabupaten, jadi harus mendapat rekomendasi,” kata Ridho.

Mengenai jembatan, Ridho minta dipastikan dulu posisi jembatan. Bila memang jembatan menghubungkan Kabupaten Banyuasin ke provinsi atau ke Kota Palembang itu memang merupakan kewenangan provinsi.

[Kordinator reses dapil 10 di hadapan masyarakat Kelurahan Talang Keramat]
“Kalau untuk jalan, tahun 2020 jalan Merah Mata dan Mata Merah, anggaran dari Rp1,3 miliar naik menjadi Rp10 miliar. Ini juga hasil karya Dapil X DPRD Sumsel saat ini ketika  pembahasan di Komisi IV. Mata Merah dan Merah Mata dibantu dari provinsi pada anggaran 2020, karena menghubungkan Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang,” papar Ridho.

Pada sesi tanya jawab, sejumlah warga mengajukan pertanyaan dan permintaan seputar pembangunan. Ketua Karang Karuna Merah Mata, Septian, menanyakan tentang kegiatan kepemudaan yang belum didukung sarana dan prasarana secara optimal.

“Seperti bola voli, ada lapangan tapi masih tanah, kalau bisa mohon dilakukan pengecoran,” kata Septian.

[Salah satu warga menyampaikan aspirasi]
Sementara Ketua RT 14 minta dibantu pembangunan musola yang sekarang sedang dilakukan, namun baru tahap awal. Ada juga yang meminta pengerasan jalan. Aspirasi yang disampaikan ditanggapi dan ditampung. Mengenai pengerasan jalan sepanjang 6 km yang diminta, Ridho mengarahkan agar permohonan dibuat tertulis. Selanjutnya, pengajuan itu akan diteruskan ke pihak berwenang.

“Apabila tujuan ke provinsi akan kami perjuangkan tetapi apabila ke kabupaten akan kami teruskan ke kabupaten,” ujar dia.

Sedangkan terhadap permintaan bantuan pembangunan musala langsung mendapat respon. Anggota Dapil X secara spontan mengumpulkan bantuan dari dana pribadi.

Selain ke Desa Merah Mata,  anggota Dapil X DPRD Sumsel juga mengunjungi Desa Talang Keramat, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. Di sini rombongan diterima oleh Camat Talang Kelapa, Arifin Nasution dan jajaran lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga.

[Poto bersama]
Antusiasme masyarakat Desa Talang Keramat terlihat saat sesi tanya jawab. Warga menanyakan berbagai persoalan seperti perbaikan jalan Desa Talang Keramat, minta penambahan PKH, perbaikan got, dan masalah belum ada air bersih padahal sudah diusulkan sejak 2013, namun sampai sekarang belum terealisasi. Warga membeberkan, air di wilayah ini berasa asam, sehingga tidak bisa dipakai. Untuk keperluan sehari-hari warga terpaksa membeli air galon sehingga biaya hidup jadi tinggi.

Menanggapi masalah ini, Ridho menjelaskan, untuk masalah pengecoran jalan akan ditampung dulu. Soal penambahan PKH dan lansia, ini akan disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Banyuasin sebagai pihak yang berwenang.

“Mengenai air bersih, di kabupaten ini ada Tirta Betuah, untuk teknisnya kami mohon informasi apakah pipa induk sudah sampai di sini.? Kalau provisni kewenangannya adalah pipa tengah, sedangkan pipa induk dan ke rumah-rumah itu urusan kabupaten.  Sepanjang pipa induk belum dibangun oleh kabupaten,  maka provinsi tidak bisa mengusulkan untuk pipa tengah. Jadi kami siap memperjuangkannya apabila pipa induknya telah dibangun,”jelas Ridho.

print